Tersenyum dan Tertawa
Dalam kehidupan ini siapa sih yang g pernah melakukan 2 hal tersebut?? jawabnnya,,,,, pasti kita semua telah melakukannya ,,, bahkan sering melakukannya stiap hari,, pada setiap aktifitas yang kita lakukan,,, baik itu di rumah,, sawah,,, ladang,,,kantor,,,,sekolah,,,, dan sebagainya,. Yang intinya dimana ada keramaian di situ ada tawa dan senyuman, oooh tidak!!,, di keramaian pada saat orang meninggal?? Hehe,,, di sana juga ada tawa dan senyum walau persentasenya sangat kecil,,, yang penting juga ada kan,, hehehe,,,,,
Yea,,,, mungkin ini sudah menjadi kebiasaan yang bagus sebenarnya kalau kita pandai dan bisa menempatakan di mana kita harus tersenyum dan tertawa, karana memang senyum merupakan sebuah jalan untuk membuka jiwa-jiwa yang sulit di buka, senyum merupakan kekayaan yang terpendam yang mana kita tidak butuh mengeluarkan biaya yang besar guna mengeluarkananya.
Senyum juga bisa menebarkan kebahagiaan di dalam rumah, meninggalkan kesan baik dalam pikiran seseorang ketika bekerja, ia seeperti akad perjanjian untuk saling mencintai sesama teman, ia juga menjadi penghibur hati, lentera bagi orang yang sedang putus asa, sebaik-baik ungkapan belasungkawa bagi orang yang sedang di rundung kesedihan, ia merupakan sifat yang paling bijak dalam menyelasaikan segala permasalahan, dan masih banyak lagi merupakan-merupakan yang lainnya hehee,,,.
Bahkan ada sebuah pepatah Cina mengatakan, yang dapat kita ambil Hikmah darinya yakni, " Bila anda tidak dapat tersenyum dengan baik maka anda tidak layak untuk membuka sebuah TOKO,". ^_^
Ahmad Amin juga mengatakan dalam bukunya " Faidhul Khatir",: Orang-orang yang murah senyum tidak hanya mendapatkan kebahagiaan untuk diri mereka sendiri, namun mereka adalah orang-orang yang mampu bekerja dengan baik, lebih kuat menanggung beban dan tanggung jawab, lebih berani menghadapi tantangan dan menyelasaikan masalah. Apalah artinya harta bagi orang yang bermuka muram?? Apa artinya jabatan bagi orang yang jiwanya tertekan??apa artinya semua yang ada dalam kehidupan ini, jika pemiliknya adalah orang-orang yang dadanya sesak, seakan ia baru mengantar jenazah seorang kekasih yang meninggal dunia? Apa artinya kecantikan wajah seorang istri, jika ia selalu bewajah muram dan membuat rumah seperti neraka jahim?! Kebaikan adalah ketika seorang isteri – meskipun tidak begitu cantik – mampu menyihir sebuah rumah menjadi surga nan indah!!.
Namun,, sebuah senyuman juga tidak akan ada artinya jika senyuman itu tidak tulus, penuh dengan kejanggalan yang terpendam di dalam hati, Lihatlah bunga-bunga tersenyum dengan tulus, hutan pun tersenyum, laut, sungai,langit, bintang-bintang, dan burung-burung pun tersenyum, dan pada prinsipnya, tabi'at asal manusia juga tersenyum jika tidak di halangi oleh sifat tamak, jahat, dan egoisnya. Semua sifat jelek itulah yang membuat manusia berwajah muram, hehehe,,, inilah yang merusak keindahan alam yang begitu serasi.
Senyum tidak sekedar mempesona hati dan memperbanyak kebaikan, menghapus dosa dan kesalahan, tapi ia juga berguna untuk melatih tabi'at manusia, menghadirkan kebahagiaan, kelapangan hati, dan mampu membuat manusia menikmati kehidupan.
Rasul SAW juga memberikan kita sebuah nasehat yang sangat agung,,, yakni " Sungguh, kalian tidak perlu menarik hati manusia dengan harta kalian. Namun, hendaklah kalian membuat wajah kalian tersenyum dan berakhlak baik".
"Tanamlah biji senyum di alam raya
Jangan kau bunuh kebaikan dengan bermuram durja
Jadilah kau duta kebahagiaan bagi semesta
Dengan menebar senyum seperti Muhammad idola kita
Dalam dirinya senyum tidak pernah sirna
Senyum seseorang bak kapal di dermaga
Susunlah pahala atas senyummu
Adapun muram adalah sejelek-jelek perangaimu
Ia tak pernah memberi keuntungannya",
KeeP SmiLe, Brothers N' Sisters,,,,,,,,,,,,,,,, Waallahu a'lam.
Gubuk Derita, 19 Rajab 1432
Mengerti sama dengan Paham. Paham sama dengan Menghayati. dan Mengahayati merupakan ilmu (keahlian) yang di miliki oleh seseorang yang berfungsi sebagai penerang jiwanya,, dan jika Jiwa(hati) sudah terang maka hidayah pun mudah masuk.. mari kita berbagi dan saling mengingatkan sesama,, Supaya kita juga Bisa selamat sama-sama di Alam sana .
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Juni 2011
Kamis, 04 November 2010
Ihsan : Klimaks dari sebuah 'Amal
Ketika Cinta sudah berbicara,,,,!!.
Ada sebuah dialog yang menarik, yang dialog ini terdapat dalam kitab hadits Arba’in an-Nawawi,tepatnya pada hadits yang kedua,,, dialog ini terjadi pada saat Rasul SAW bersama para Sahabatnya sedang berada di sebuah tempat, tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian putih bersih, wajahnya bersih dan berseri kepada Rasul SAW,, setelah terjadi dialog orang tersebut pun pergi,,,setelah orang tersebut pergi , Umar bin Khatab bertanya pada rasul SAW,,, Siapakah tamu yang berdialog dengan engkau tadi Ya Rasulallah,,, Lalu Rasul menjawab,,, itu tadi adalah malaikat jibril yang datang kepadaku untuk mengajarakan Agama kepada kalian,,,, Nah isi dialognya begitu di kutip oleh Bukhari yakni tentang Iman , islam dan ihsan,,,, tentang Ihsan yakni isinya adalah “Apa Itu ihsan??,, Rasul menjawab,,, Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya dan bilamana engkau tidak melihatnya maka yakinlah bahwa Allah SWT melihat engkau,,,.
Hal ini menunjukkan ishan merupakan puncak klimaks dari iman dan islam yang baik, sehingga timbul kenikmatan spiritual kalau kita menyembah Allah SWT. Sehingga tidak ada lagi beban dan rasa berat untuk menjalankan perintah Allah SWT.Kita terus bersuaha menyembah Allah sampai tingkat kualitas yang tertinggi itu,,,,dimana kita menemukan kenikmatan ketika Shalat, Puasa dan sebagainya, suasana bathin seperti ini tentu tidak bisa kita dapatkan begitu saja, tentu harus ada prosese riyadhah, (proses latihan),,. Banyak teori yang di kembangkan oleh sufi,,bagaimana caranya menemukan kenikmatan spiritual ketika menyembah atau beribadah kepada Allah SWT, salah satunya adalah teori yang dikembangkan oleh Rabi’ah al-adawiyyah,,,, yakni tentang Cinta,,, kita baru bisa menemukan kenikmatan menyembah Allah kalau kita sudah cinta kepada Allah, dan ketika kita sudah cinta kepada Allah maka mengucapkan NamaNya merupakan sebuah kenikmatan,, berdialog denganNya merupakan sebuah hiburan dan bahkan pasrah kepadaNya menjadi sebuah pengobatan,, ia mengunggakapkan sebuah do’a,, yang kemudian do’anya ini menjadi bahan debat diantara para pemikir islam,,, isi do’anya adalah :
“Ya Tuhan seandaiya aku menyembahMu karena mengharapakan surgaMu maka haramkan surga itu untukku, sebab berarti aku menyembahmu bukan karena mengharapaknMu tapi mengharapakn maklukmu,,yaitu surga,,, aku menyembahm\Mu karena mengharapkan engkau bukan makhlukmu, Surga. Seandainya aku menyembahmu Tuhan, karena saya takut masuk nerakamu,aku ini milikimu, dan neraka itupun milikmu,, aku tidak merasa memiliki diriku ini,, emgkaulah yang menentukan segalanya,, siapa yang dapat menghalangi diriku untuk di masuskkan ke nerakamu,,, karena egkaulah yang memiliki diriku mau dinerakakan atau tidak itu hakmu Karen engkaulah yang memiliki seagalanya,,,. Saya menyembahmu Tuhan, karena saya rindu dan cinta denganMu”. Ini adalah konsep cinta,, kita boleh tidak setuju dengan ungkapan-ungkapan do’anya, akan tetapi cinta bisa membangun kenikmatan beribadah,, kita senang kalau bertemu dengan yang kita cintai, kita merasa nikmat bisa berdialog dengan yang kita cintai, kita merasa nikmat kalau kita sudah bertemu dan melihat yang kita cintai,, begitulah konsep yang disodorkan oleh Rabi’ah, tentang cinta,, bagaimana kita bisa menyembah Allah tidak karena terpaksa, sehingga ibadah menjadi sebuah kenikmatan,, kalau ibadah sudah menjadi sebuah kenikmatan, maka ibadah tidak lagi menjadi beban justru ia menjadi refreshing (sebuah penyegaran) rohaniah bahkan sebagai syifa' (pengobatan spiritual).karena itulah timbul berbagai macam ungkapan slah satuya adalah " Siapa yang belum pernah merasakan, maka ia belum mengetahui",, Mudah-mudahan tulisan sigkat ini dapat bermanfaat. Asam Peutik,Langsa 5 November 2010
Sabtu, 26 Juni 2010
Manusia Bersembunyi di Bawah Lidah
“Dari Abi Hurairah R.A.. bahwa Rasul SAW bersabda,,:,”Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir,, Hendaklah ia berkata baik atau diam…….. ……..
(al-hadits : H.R.”Bukhari danMuslim) dalam kitab Matan Arb’iin An-Nawawiyah hadits ke-10:12.
……”Harga penampilan itu terletak pada pakaian yang dikenakan… dan sedangkan harga diri seseorang itu terletak pada lidahnya…(kata ahli hikmah)”
Nilai manusia itu dapat diketahui dari pembicaraannya, Karena pembicaraan setiap orang menunjukkan pikiran dan tabiatnya,dan dengan itu perasaan dan tempramennya dapat diketahui dengan sangat mudah. Oleh karena itu,maka selama kita berdiam diri,kekurangan maupun kelebihan kita akan tersembunyi,tetapi ketika kita berbicara maka jiwa kita yang sesungguhnya akan terwujud dengan sendirinya. Apabila kita ndak berbicara,maka orang lain ndak kan mengetahui nilai dan harga kita.hehhe….!!
Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa :”Manusia tersembunyi dibawah lidahnya.”
Ya,,,,, !! manusia tersembunyi di bawah lidahnya.Artinya apa??,,, bahwa jiwa manusia itu bisa dilihat,dibaca, dan dinilai dari lisannya. Karena pribahasa kuno / “kata-kata hikmah” ndak kan pernah lahir mana kala tidak mencerminkan kenyataannya,,, seperti… “Tong Kosong Berbunyi nNyaring” Orang yang banyak berbicara, biasanya hanya mengungkapkan banyak omong kosong belaka,, alias banyak basa basinya, hehhe.. tau kata-kata hikmah “kuno” lainnya,,, “Diam itu lebih baik daripada emas”_ ini pun merupakan kata-kata hikmah yang menggambarkan seseorang yang hidup dengan memiliki kearifan-kearifan diri. Orang yang demikian ini tahu dan sadar kapan ia harus berbicara dan kapan ia harus diam.. Mereka-mereka ini tau apa yang mesti dibicarakan dan apa yang mesti di diamkan.Lidah tidak di biarkan mengucapakan kata-kata yang tidak berarti,kurang berarti,jorok,jabul, dan segala omong kosong lainnya,, Lidah di sucikan dari keburukan-keburukan ucapan, ini bukan berarti mereka tidak bisa berkata omong kosong,jorok-jorok, atau cabul-cabul,,, Mereka bisa melakukan itu,,,.
Tetapi untuk apa?? Untuk apa mengeluarkan kata-kata yang tidak bermakna?? Untuk apa menghamburakan kata-kata yang justru hanya akan mencerminkan keadaan jiwa yang buruk,mesum dan jahil serta ntah apalagi sebutannya!!!!!!!..
Tetapi lihatlah,,, dengarlah,, dan renungkanlah kebiasaan dari sebagian kita,,, Dalam banyak pertemuan dan kesempatan,, kata-kata yang tidak bermakna dan bermanfaat berhamburan bagai serpihan-serpihan dedaunan kering yang digulung badai. Canda tawa dilakukan dengan berlebih-lebihan. Orang-orang semakin merasa puas manakala semakin bisa banyak berkata-kata dan semakin banyak bicara. Tak jarang, siapa saja yang sanggup secara terang-terangan berkata jorok maka dialah yang diberikan kesempatan untuk banyak berkata-kata.
Aduhaiiiiiii………!!!!!!!!!!!! Sampai kapaaaaaaaaaan!!?????? Sampai kapan, lidah kita gunakan untuk ucapan dan hal-hal seperti itu…..??
Apa yang ada di pikiran orang tentang kita, itu tidak kita ketahui,, orang akan begitu mudah menjustifikasi kita seperti apa yang kita katakan itu,,,, missaaal”””””!! Bila kita sering berkata cabul,, maka kita akan diangaap dan di cap sebagai pencabul…. Ya!!!!!! Walaupun kita bukanlah tipologi pencabul.. atau bila kita suka berbasa basi,, orang akan sulit menanggapi kita dengan serius,, sebab basa basi biasanya dihadapi dengan basa basi pula. Bila kita suka bercanda.. terutama dengan canda yang berlebihan, maka orang akan menilai kita sebagai orang yang tidak pernah serius pula. Kalaupun kita tengah serius, orang akan menaggapi bahwa kita tengah bercanda..
Tetapi,,, bila kita sanggup menjaga lisan kita dari perkatan-perkataan yang tidak bermakna dan cenderung bersyahwat, orang lain akan merasa segan dengan kita,,Orang akan meyakini kita sebagi seseorang yang sanggup menjaga lidah dan rahasia… kata-kata kita akan didengar mereka. Dan kita sendiri akan mendapati sebagai pemilik jiwa yang berbahagiaaa!!! Pada saat inilah, cahaya ketuhanan akan semakin memenuhi rongga dada kita,,,. Hikmah – hikmah akan mudah masuk membashi jiwa kita..Hati akan tersingkap dan nurani kita akan menjadi pemandu jalan hidup kita…
Tapi semua itu kembali pada kebiasaan kita masing-masing,, apa yang sering kita lakukan dan ucapkan maka hal itu pula yang akan sering kita lakukan dan ucapkan,,, ya!!!! Semua itu memang bisa berubah,,, tapi kan perlu proses,, dan prosenya ini akan membuat badan dan lidah menjadi panas dingin bila kita ndak terbiasa,,,, hehheheheee…..!!!! mudah-mudahan kita bisa menjadi orang-orang yang dikisahkan dalam (Q.S.Al-Imran[3]:190-191) sehingga walaupun kita diam,, diamnya kita menjadi dan membawa rahmat,, baik bagi kehidupan kita sendiri maupun orang lain,,,,,,
WaAllahu A’lam
Samudra.. 27 juni 2010
(al-hadits : H.R.”Bukhari danMuslim) dalam kitab Matan Arb’iin An-Nawawiyah hadits ke-10:12.
……”Harga penampilan itu terletak pada pakaian yang dikenakan… dan sedangkan harga diri seseorang itu terletak pada lidahnya…(kata ahli hikmah)”
Nilai manusia itu dapat diketahui dari pembicaraannya, Karena pembicaraan setiap orang menunjukkan pikiran dan tabiatnya,dan dengan itu perasaan dan tempramennya dapat diketahui dengan sangat mudah. Oleh karena itu,maka selama kita berdiam diri,kekurangan maupun kelebihan kita akan tersembunyi,tetapi ketika kita berbicara maka jiwa kita yang sesungguhnya akan terwujud dengan sendirinya. Apabila kita ndak berbicara,maka orang lain ndak kan mengetahui nilai dan harga kita.hehhe….!!
Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa :”Manusia tersembunyi dibawah lidahnya.”
Ya,,,,, !! manusia tersembunyi di bawah lidahnya.Artinya apa??,,, bahwa jiwa manusia itu bisa dilihat,dibaca, dan dinilai dari lisannya. Karena pribahasa kuno / “kata-kata hikmah” ndak kan pernah lahir mana kala tidak mencerminkan kenyataannya,,, seperti… “Tong Kosong Berbunyi nNyaring” Orang yang banyak berbicara, biasanya hanya mengungkapkan banyak omong kosong belaka,, alias banyak basa basinya, hehhe.. tau kata-kata hikmah “kuno” lainnya,,, “Diam itu lebih baik daripada emas”_ ini pun merupakan kata-kata hikmah yang menggambarkan seseorang yang hidup dengan memiliki kearifan-kearifan diri. Orang yang demikian ini tahu dan sadar kapan ia harus berbicara dan kapan ia harus diam.. Mereka-mereka ini tau apa yang mesti dibicarakan dan apa yang mesti di diamkan.Lidah tidak di biarkan mengucapakan kata-kata yang tidak berarti,kurang berarti,jorok,jabul, dan segala omong kosong lainnya,, Lidah di sucikan dari keburukan-keburukan ucapan, ini bukan berarti mereka tidak bisa berkata omong kosong,jorok-jorok, atau cabul-cabul,,, Mereka bisa melakukan itu,,,.
Tetapi untuk apa?? Untuk apa mengeluarkan kata-kata yang tidak bermakna?? Untuk apa menghamburakan kata-kata yang justru hanya akan mencerminkan keadaan jiwa yang buruk,mesum dan jahil serta ntah apalagi sebutannya!!!!!!!..
Tetapi lihatlah,,, dengarlah,, dan renungkanlah kebiasaan dari sebagian kita,,, Dalam banyak pertemuan dan kesempatan,, kata-kata yang tidak bermakna dan bermanfaat berhamburan bagai serpihan-serpihan dedaunan kering yang digulung badai. Canda tawa dilakukan dengan berlebih-lebihan. Orang-orang semakin merasa puas manakala semakin bisa banyak berkata-kata dan semakin banyak bicara. Tak jarang, siapa saja yang sanggup secara terang-terangan berkata jorok maka dialah yang diberikan kesempatan untuk banyak berkata-kata.
Aduhaiiiiiii………!!!!!!!!!!!! Sampai kapaaaaaaaaaan!!?????? Sampai kapan, lidah kita gunakan untuk ucapan dan hal-hal seperti itu…..??
Apa yang ada di pikiran orang tentang kita, itu tidak kita ketahui,, orang akan begitu mudah menjustifikasi kita seperti apa yang kita katakan itu,,,, missaaal”””””!! Bila kita sering berkata cabul,, maka kita akan diangaap dan di cap sebagai pencabul…. Ya!!!!!! Walaupun kita bukanlah tipologi pencabul.. atau bila kita suka berbasa basi,, orang akan sulit menanggapi kita dengan serius,, sebab basa basi biasanya dihadapi dengan basa basi pula. Bila kita suka bercanda.. terutama dengan canda yang berlebihan, maka orang akan menilai kita sebagai orang yang tidak pernah serius pula. Kalaupun kita tengah serius, orang akan menaggapi bahwa kita tengah bercanda..
Tetapi,,, bila kita sanggup menjaga lisan kita dari perkatan-perkataan yang tidak bermakna dan cenderung bersyahwat, orang lain akan merasa segan dengan kita,,Orang akan meyakini kita sebagi seseorang yang sanggup menjaga lidah dan rahasia… kata-kata kita akan didengar mereka. Dan kita sendiri akan mendapati sebagai pemilik jiwa yang berbahagiaaa!!! Pada saat inilah, cahaya ketuhanan akan semakin memenuhi rongga dada kita,,,. Hikmah – hikmah akan mudah masuk membashi jiwa kita..Hati akan tersingkap dan nurani kita akan menjadi pemandu jalan hidup kita…
Tapi semua itu kembali pada kebiasaan kita masing-masing,, apa yang sering kita lakukan dan ucapkan maka hal itu pula yang akan sering kita lakukan dan ucapkan,,, ya!!!! Semua itu memang bisa berubah,,, tapi kan perlu proses,, dan prosenya ini akan membuat badan dan lidah menjadi panas dingin bila kita ndak terbiasa,,,, hehheheheee…..!!!! mudah-mudahan kita bisa menjadi orang-orang yang dikisahkan dalam (Q.S.Al-Imran[3]:190-191) sehingga walaupun kita diam,, diamnya kita menjadi dan membawa rahmat,, baik bagi kehidupan kita sendiri maupun orang lain,,,,,,
WaAllahu A’lam
Samudra.. 27 juni 2010
Dengar dan Majulah
“Kamu suruh seseorang (manusia) tuk berbuat kebaikan tapi kamu malah melupakan diri kamu sendiri, sedangkan kamu membaca Kitab,, tidakkkah kamu memikirkan??... begitulah kira-kira sekilas pemahaman yang terdapat dalam (Q.S.Al-baqrah[2]: 44).
Hal apakah yang paling disukai oleh banyak orang teradap orang lain?? Bicara,,, ya berbicara merupakan salah satu yang paling banyak disukai oleh kebanyakan orang. Orang lebih suka berbicara daripada mendengaarkan. Orang juga lebih suka mengugkapkan identitas dirinya terutama yang baik-baik daripada mendengarkan orang lain menyebutkan dan mengemukkan identitasnya. Jika seseorang diberi kesempatan untuk memberikan motivasi, maka ramai-ramai orang akan bisa memberikan kalimat yang panjang yang berisi tentang pemberian nasehat dan motivasi kepada orang lain.
Kita dapat melihat hal tersebut dalam kehidupan kita sehari hari. Misalnya.. ada orang yang tengah di timpa takdir kematian. Bila ada tetangga kita yang ditinggal mati oleh salah satu keluarganya,, maka tetangga-tetangga kita dan bahkan kita sibuk memberikan kalimat – kalimat yang berisi semangat,motivasi dan juga sibuk memberikan dorongan serta menanamkan kesabaran kepada orang yang ditimpa musibah takdir kematian tersebut.Kita mungkin dan seolah sedang lupa bahwa ketika orangtua atau saudara kita sendiri yang meninggal, belum tentu kita sekuat tetangga yang kita nasehati tersebut.
Hehhe,,,,. Jika seeorang (kita) memiliki waktu dan kesempatan untuk memberikan kritikan kepada orang lain. Maka kita dengan serta merta memberikan kritikan kepada orang tersebut. Bahkan kalau perlu orang tersebut dikritik dengan sekeras kerasnya.
Kita seolah lupa,, bahwa orang yang kita kritik itu juga memiliki perasaan, pikiran, dan hati?? Tidak sadarkah kita , bahwa betapapun seeorang itu melakukan kesalahan, ia tetap manusia yang memiliki kehormatan dan harga diri,, tidakkaah kita kasihan kepada orang tersebut kita kritik di tempat terbuka.
Bagaimana jika yang dikritik itu adalah kita?? Bagaimana jika didepan umum ada orang yang menjelek-jelekkan kita atau mengkritik kita??.. hehheh…. tentu kita dengan mudah dapat menjawabnya.... Yaaa,, lihat-lihat kesalahannya laaaaaah,,,.!!!!
Maka jangan kita salahkan jika ada seseorang yang membenci kita,, sebab siapa tahu orang tersebut membenci kita Karena kita yang telah terlebih dahulu menanamkan kebencian kepada orang tersebut.,,,,
Heheh,,, bicara,, ya berbicara itu memmang mudah, mencari – cari kesalahan dan kekurangan orang lain pun merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan. Mengkritik seseorang pun pada taraf tertentu merupakan sesuatu yang mudah tuk dilakukan. Terkadang malah mungkin kita melihat seseorang mengkritik orang lain tanpa ada yang menyuruhnya. Sering terjadi pula,, seseorang dengan tiba-tiba ingin berbicara tentang sesuatu yang padahal belum tentu orang lain akan suka mendengarnya,.
Imam Ali bin abi Thalib pernah mengatakan bahwa “Orang yang merasa puas dengan dirinya(menyebabkan) banyak oreng yang marah dan tidak puas dengannya”
Duhai sahabat,,,,,!!!!
Setelah sekian lama kita banyak berbicara, sekaranglah saatnya kita untuk banyak mendengar. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa kekatuan berbicara itu memang dahsyat,, sejarah banyak di warnai oleh orang- orang yang fasih dalam berbicara.Untuk sekedar contoh,, kehebatan berbicara telah membesarkan nama Georgias, Protogoras, Plato dan Aristoteles di zaman Yunani Kuno, juga Ciero di Romawi Kuno atau juga Oliover Cromwell di abad 17 hingga Hitler Musolii di abad yang baru lalu. Kekuatan kata-kata juga tercermin pada diri Muhammad SAW dan para sahabatnya. Pendeknya sejarah telah banyak di warnai oleh orang-orang yang fasih dalam berbicara.
Sebesar kekuatan berbicara sebesar itu pula kekuatan mendengar. Bahkan seorang motivator ulung “Dale Carnege” menulis bab khusus dalam salah satu bukunya tentang perlunya kita banyak mendengar daripada banyak berbicara… Oleh karena itu, sudah saatnya kita belajar untuk mendengarkan orang lain,,,mendengarkan pendapatya, mendengarkan masukan-masukannya,, juga mendengarkan kritikan-kritikanya, terhadap kita.
Disaat yang sama kita akan bisa menemukan orang-orang yang memiliki kemampuan dan wawasan yang lebih baik dari kita. Untuk itu, kita harus memberikan kesempatan pada pendengaran kita untuk mendengrakan pembicaraanya,, hehhe,,,,,,,,,, hal ini bukan berarti kita disebut sebagai “pengupieng” tapi yang kita dengarkan adalah sesuatu yang dapat menembah dan meningkatkan wawasan terahadap agam ini lebuh baik lagi. Sebab dengan mendengar kita bisa banyak mengerti,mengetahui dan memahami ide dan gagasanya yang belum kita miliki.
Termasuk juga mendengarkan adalah membaca dan mempelajari pikiran-pikiran yang di tulis dalam buku,majalah, atau terbitan-terbitan yang lain. Kita baca pikiran-pikiran yang ada di sana, lalu kita ambil hikmahnya serta kemudian kita tanamkan dalam hati dan jiwa kita,,, tentunya yang baik dan benar.
Terakhir yang sangat penting adalah.. kita belajar untuk mendengarkan suara hati nurani kita, kita jadikan hati nurani sebagi pembimbing, petunjuk, penolong dan pemotivasi yang diberikan oleh Allah SWT,,, pada diri kita.
Caranya????
Sering- seringlah kita berdialog dengan hati, kita aktifkan radar hati kita, dan bertanya jawablah kita dengannya.Tatkala kita sedang mengalami keraguan dan kebimbangan, janganalah kita berhenti pada jeritan hati saja, tapi kita lanjutkan dengan merenungkan dalam-dalam masalah yang sedang kita ragukan dan bimbangkan itu, kita berdialog dengan Allah SWT melalui Qur'an,,,, kita bertanya pada orang yang lebih mengetahui dari kita tentag hal tersebut,,,, dalam hal ini bukan berarti kita harus pergi ke "dukun" hehheehheheh.......Naaaaah,, Pada saat nurani kita (hati) membisikkan jalan yang kita tempuh… lalu kita ambil jalan itu dan yakinilah,,, memang hal itu tak semudah yang kita bayangkan,, karena hanya hati yang suci dan bersih dari noda dan dosa yang bisa membimbing kita pada kebenaran,,,
Kita sudah banyak berbicara dan kita juga sudah banyak mendengarkan,, sekaranglah saatnya kita bangkit dan maju,,, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang di “sindir’ dalam (Q.S.al-Baqarah[2]:44) diatas tadi.. jangan sampai kita menjadi orang-orang yang banyak berbicara (menashati,memotivasi oranglain) tapi malah kita lupa terhadap diri kita sendiri.. memang siich…!! Berbicara itu sangat mudah tuk dilakukan dan pada taraf tertentu baru akan sulit dan sukar tuk di lakukan,,,hehhehe….
Ya kan??
Hehehe,,,, Banyak orang yang dengan mudahya “mengejek” atau “menyepelekan” orang lain , tapi ketika ia (org tersebut) di suruh tuk melakukan hal yang sama,seperti apa yang telah dilakukan dan perbuat oleh orang yang ia “ejek” tadi,, belum tentu ia bisa melakukannya,, dan malah yang parahnya ia keluarkan berbagai macam dalih, argument,alasan dan ntah apa lagi yang lainya..tuk membela dirinya, yang jelas sudah salah,, hal ini yang mestinya kita hindari, tapi amat di sayangkan hal ini banyak terjadi dan dapat kita saksikan dalam dunia pendidikan kiat saat ini…yang banyak di”penuhi oleh orang-orang yang meneyepelekan orang lain, huuuuf!!!!.
Duhai sahabat,,,…..!!!!!!
Sekaranglaah saatnya kita bangkit dan maju,, bangkit dari rasa malas dan maju menyingkirkan rasa sombong alais “sok tau”. Kita jadikan diri kita sebagai orang yang baik dan benar sehingga kita bisa menjadi dan merasakan kebahagiaan dalam jiwa kita. Dan sehingga kita juga bisa menjadi orang-orang yang yakin (berkeyakinan) terhadap suatu kebaikan serta kita juga bisa membuktikan apa yang kita yakini dari kebikan itu dengan perbuatan nyata.
Soooo..!!!!! Keep your mind,, with your actions!!!! And surely you will succeed………………^_^
WaAllahu a’lam
Samudra,,27 juni 2010
Hal apakah yang paling disukai oleh banyak orang teradap orang lain?? Bicara,,, ya berbicara merupakan salah satu yang paling banyak disukai oleh kebanyakan orang. Orang lebih suka berbicara daripada mendengaarkan. Orang juga lebih suka mengugkapkan identitas dirinya terutama yang baik-baik daripada mendengarkan orang lain menyebutkan dan mengemukkan identitasnya. Jika seseorang diberi kesempatan untuk memberikan motivasi, maka ramai-ramai orang akan bisa memberikan kalimat yang panjang yang berisi tentang pemberian nasehat dan motivasi kepada orang lain.
Kita dapat melihat hal tersebut dalam kehidupan kita sehari hari. Misalnya.. ada orang yang tengah di timpa takdir kematian. Bila ada tetangga kita yang ditinggal mati oleh salah satu keluarganya,, maka tetangga-tetangga kita dan bahkan kita sibuk memberikan kalimat – kalimat yang berisi semangat,motivasi dan juga sibuk memberikan dorongan serta menanamkan kesabaran kepada orang yang ditimpa musibah takdir kematian tersebut.Kita mungkin dan seolah sedang lupa bahwa ketika orangtua atau saudara kita sendiri yang meninggal, belum tentu kita sekuat tetangga yang kita nasehati tersebut.
Hehhe,,,,. Jika seeorang (kita) memiliki waktu dan kesempatan untuk memberikan kritikan kepada orang lain. Maka kita dengan serta merta memberikan kritikan kepada orang tersebut. Bahkan kalau perlu orang tersebut dikritik dengan sekeras kerasnya.
Kita seolah lupa,, bahwa orang yang kita kritik itu juga memiliki perasaan, pikiran, dan hati?? Tidak sadarkah kita , bahwa betapapun seeorang itu melakukan kesalahan, ia tetap manusia yang memiliki kehormatan dan harga diri,, tidakkaah kita kasihan kepada orang tersebut kita kritik di tempat terbuka.
Bagaimana jika yang dikritik itu adalah kita?? Bagaimana jika didepan umum ada orang yang menjelek-jelekkan kita atau mengkritik kita??.. hehheh…. tentu kita dengan mudah dapat menjawabnya.... Yaaa,, lihat-lihat kesalahannya laaaaaah,,,.!!!!
Maka jangan kita salahkan jika ada seseorang yang membenci kita,, sebab siapa tahu orang tersebut membenci kita Karena kita yang telah terlebih dahulu menanamkan kebencian kepada orang tersebut.,,,,
Heheh,,, bicara,, ya berbicara itu memmang mudah, mencari – cari kesalahan dan kekurangan orang lain pun merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan. Mengkritik seseorang pun pada taraf tertentu merupakan sesuatu yang mudah tuk dilakukan. Terkadang malah mungkin kita melihat seseorang mengkritik orang lain tanpa ada yang menyuruhnya. Sering terjadi pula,, seseorang dengan tiba-tiba ingin berbicara tentang sesuatu yang padahal belum tentu orang lain akan suka mendengarnya,.
Imam Ali bin abi Thalib pernah mengatakan bahwa “Orang yang merasa puas dengan dirinya(menyebabkan) banyak oreng yang marah dan tidak puas dengannya”
Duhai sahabat,,,,,!!!!
Setelah sekian lama kita banyak berbicara, sekaranglah saatnya kita untuk banyak mendengar. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa kekatuan berbicara itu memang dahsyat,, sejarah banyak di warnai oleh orang- orang yang fasih dalam berbicara.Untuk sekedar contoh,, kehebatan berbicara telah membesarkan nama Georgias, Protogoras, Plato dan Aristoteles di zaman Yunani Kuno, juga Ciero di Romawi Kuno atau juga Oliover Cromwell di abad 17 hingga Hitler Musolii di abad yang baru lalu. Kekuatan kata-kata juga tercermin pada diri Muhammad SAW dan para sahabatnya. Pendeknya sejarah telah banyak di warnai oleh orang-orang yang fasih dalam berbicara.
Sebesar kekuatan berbicara sebesar itu pula kekuatan mendengar. Bahkan seorang motivator ulung “Dale Carnege” menulis bab khusus dalam salah satu bukunya tentang perlunya kita banyak mendengar daripada banyak berbicara… Oleh karena itu, sudah saatnya kita belajar untuk mendengarkan orang lain,,,mendengarkan pendapatya, mendengarkan masukan-masukannya,, juga mendengarkan kritikan-kritikanya, terhadap kita.
Disaat yang sama kita akan bisa menemukan orang-orang yang memiliki kemampuan dan wawasan yang lebih baik dari kita. Untuk itu, kita harus memberikan kesempatan pada pendengaran kita untuk mendengrakan pembicaraanya,, hehhe,,,,,,,,,, hal ini bukan berarti kita disebut sebagai “pengupieng” tapi yang kita dengarkan adalah sesuatu yang dapat menembah dan meningkatkan wawasan terahadap agam ini lebuh baik lagi. Sebab dengan mendengar kita bisa banyak mengerti,mengetahui dan memahami ide dan gagasanya yang belum kita miliki.
Termasuk juga mendengarkan adalah membaca dan mempelajari pikiran-pikiran yang di tulis dalam buku,majalah, atau terbitan-terbitan yang lain. Kita baca pikiran-pikiran yang ada di sana, lalu kita ambil hikmahnya serta kemudian kita tanamkan dalam hati dan jiwa kita,,, tentunya yang baik dan benar.
Terakhir yang sangat penting adalah.. kita belajar untuk mendengarkan suara hati nurani kita, kita jadikan hati nurani sebagi pembimbing, petunjuk, penolong dan pemotivasi yang diberikan oleh Allah SWT,,, pada diri kita.
Caranya????
Sering- seringlah kita berdialog dengan hati, kita aktifkan radar hati kita, dan bertanya jawablah kita dengannya.Tatkala kita sedang mengalami keraguan dan kebimbangan, janganalah kita berhenti pada jeritan hati saja, tapi kita lanjutkan dengan merenungkan dalam-dalam masalah yang sedang kita ragukan dan bimbangkan itu, kita berdialog dengan Allah SWT melalui Qur'an,,,, kita bertanya pada orang yang lebih mengetahui dari kita tentag hal tersebut,,,, dalam hal ini bukan berarti kita harus pergi ke "dukun" hehheehheheh.......Naaaaah,, Pada saat nurani kita (hati) membisikkan jalan yang kita tempuh… lalu kita ambil jalan itu dan yakinilah,,, memang hal itu tak semudah yang kita bayangkan,, karena hanya hati yang suci dan bersih dari noda dan dosa yang bisa membimbing kita pada kebenaran,,,
Kita sudah banyak berbicara dan kita juga sudah banyak mendengarkan,, sekaranglah saatnya kita bangkit dan maju,,, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang di “sindir’ dalam (Q.S.al-Baqarah[2]:44) diatas tadi.. jangan sampai kita menjadi orang-orang yang banyak berbicara (menashati,memotivasi oranglain) tapi malah kita lupa terhadap diri kita sendiri.. memang siich…!! Berbicara itu sangat mudah tuk dilakukan dan pada taraf tertentu baru akan sulit dan sukar tuk di lakukan,,,hehhehe….
Ya kan??
Hehehe,,,, Banyak orang yang dengan mudahya “mengejek” atau “menyepelekan” orang lain , tapi ketika ia (org tersebut) di suruh tuk melakukan hal yang sama,seperti apa yang telah dilakukan dan perbuat oleh orang yang ia “ejek” tadi,, belum tentu ia bisa melakukannya,, dan malah yang parahnya ia keluarkan berbagai macam dalih, argument,alasan dan ntah apa lagi yang lainya..tuk membela dirinya, yang jelas sudah salah,, hal ini yang mestinya kita hindari, tapi amat di sayangkan hal ini banyak terjadi dan dapat kita saksikan dalam dunia pendidikan kiat saat ini…yang banyak di”penuhi oleh orang-orang yang meneyepelekan orang lain, huuuuf!!!!.
Duhai sahabat,,,…..!!!!!!
Sekaranglaah saatnya kita bangkit dan maju,, bangkit dari rasa malas dan maju menyingkirkan rasa sombong alais “sok tau”. Kita jadikan diri kita sebagai orang yang baik dan benar sehingga kita bisa menjadi dan merasakan kebahagiaan dalam jiwa kita. Dan sehingga kita juga bisa menjadi orang-orang yang yakin (berkeyakinan) terhadap suatu kebaikan serta kita juga bisa membuktikan apa yang kita yakini dari kebikan itu dengan perbuatan nyata.
Soooo..!!!!! Keep your mind,, with your actions!!!! And surely you will succeed………………^_^
WaAllahu a’lam
Samudra,,27 juni 2010
Jumat, 25 Juni 2010
Menyikapi Masa Lalu
“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menepati kesabaran.”
(Q.S.Al-‘ashri:1-3)
Menyikapi ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah berkata..:”Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya…” Apa maksudnya?? Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu.. yang tak mampu menggunakan waktu dialah yang dijamin bakal merugi,,persis seperti orang yang sudah mati..
Waktu,,,,,!!!!!! Lalai,,,,, maka kan mati???????
“Aduhaiii…….!!! Seandainya waktu bisa diputar ulang,aku akan memilih waktu dimana dulu aku bisa berbahagia hidup bersama kedua orang tuaku,, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan aku pun tidak akan melakukan kesalahan yang sama,, Sehingga tidak menyebabkan keluargaku hancur berantakan,,, tidak menyebabkan akau menjadi pengangguran,,,,, tidak menyebabkan akau di pecat dari perusaahaan,,, Tapi sayang ya!! Waktu tidak pernah kembali,, aku sulit tuk melupakan masa-masa indah itu,, sekaligus sulit melupakan kenangan pahit yang terus membekas di hatiku…””keluh seorang teman kepada kami pada saat sedang asyik duduk-duduk santai……
Ya,, Masa laluuuu…….!!!!
Adakah yang masih tersisa ?? masa lalu adalah dimana kita tidak akan mendaapatkannya kembali walau kita berdo’a hingga menangis darah sekalipun, masa lalu tidak akan bisa kita undang kembali lagi..Tetapi lihatlah diri kita..”Terkadang kita tersenyum-senyum sendiri ketika duduk sendirian di suatu tempat atau ketika kita “curhat” pada sahabat-sahabat kita. Pikiran kita mendarat di masa lalu,tatkala bunga-bunga musim semi bermekaran di dada kita,terbayang jelas di pelupuk mata kita tatkala kita tengah memadu kasih dengan sang kekasih, atau tatkala kita tengah mendapatkan rezeki yang tiada diduga-duga atau tatkala kita hirup udara kebersaman dengan orang – orang yang mencintai kita dan kita pun mencintai mereka,, membayangkan hal itu, tiba-tiba dada kita disesaki oleh keinginan yan mustahil “.. aduhai seandainya masa-masa indah itu bisa kembali lagi kepadaku…” dan ntah ucapan lain pa lagii!!!!..hehhee…..
Namun,dilain waktu, didalam kesendirian dan keheningan malam tiba-tiba ingatan kita mendarat pada tanah yang tandus dan gersang di masa lalu,, tempat kita menemukan orang yang kita cintai pergi meniggalkan kita,, tempat dimana orang-orang yang kita cintai berubah membenci kita,, Tak terasa air mata kita mengalir deras membasahi kedua pipi kita, kita menangisi kenyataan pahit di masa lalu dan itu kita lakukan di waktu sekarang.
Jadi,, Apa yang harus kita lakukan?? Haruuuskah kita menangisi peristiwa yang sudah lalu?? Atau haruskah kita tertawa dengan peristiwa yang sudah lalu?? kenapa kita lakukan hal itu?? Kita hidup saat ini, yang sedang kita hadapi adalah kenyataan di depan kita sekarang, baik atau buruk keadaan kita sekarang itulah yang mesti kita hadapi…. Maka sekiranya kita sekarang ini sedang menghadapi beban yang terasa begitu berat,, jangan lantas kita menambahnya dengan mengingat-ingat kebahagiaan yang pernah kita alami di masa lalu,, Sebaliknya.. Tatakala kita sedang merasakan kenikmatan dan kebahagian hidup,, jangan lantas kita bandingkan kebahagiaan hidup kita saat ini dengan keadaan hidup kita di masa lalu.. karena bila kita melakukannya,, kita akan sulit untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.
Mungkin kita sering mendengar tentang seorang perempuan yang mengalami trauma dalam percintaanya,, hehhe…… lalu dia berjanji tuk tidak kan jatuh cinta lagi… Kenapa hal itu terjadi?? Yaaa,,, sebab iya trauma dengan masa lalunya,,,,di sakiti,, khianati,, tau di duakan,, hehhhe ,,,, taupun peristiwa-peristiwa yang lainya,yang membuat seseorang itu trauma dengan sesuatu…
Heheh,,,,, jangan begiituuuu!!!!!!!!!!!!!
Kenapa kita harus sedih dengan peristiwa yang sudah lalu?? Kenapa juga kita mesti senang dengan peristiwa yang sudah lalu?? Memang kita harus menyadari bahwa masa lalu itu tidak akan bisa kita lupakan,, tetapi itu bukan berarti masa lalu harus kita ingat teruuus,,, masa lalu bukan untuk dilupakan dan bukan pula untuk di ingat-ingat.. tetapi satu-satunya jalan tengah yang harus kita lakukan adalah “mengikhlaskannya”.
Ya.!!!! Ikhlas.. mengikhlaskannya…….
Ikhlas terhadap semua yang sudah terjadi pada diri kita,, baik itu senang maupun susah,,,sengsara maupun bahagia yang telah terjadi pada hidup kita… mari kita mengikhlaskannya.. sebab masa lalu itu sudah sirna dari kehidupan kita,, jangan kia ungkit-ungkit lagi,, ambillah pelajaran darinya (masa lalu) .. jadilah diri kita sekarang ini…. Tentunya yang lebih baik,, kita tatap masa depan dan jangan kita berpaling ke masa lalu,,, kecuali hanya untuk kita mengambil hikmah taupun pelajaran dari masa lalu itu.. seperti pernyataan dalam (Q.S.Yusuf[12]:111)….. dan kita perbanyak “menimba” pengetahuan dan wawasan serta pengalaman masa lalu dari orang-orang yang lebih tua dari kita,, sebab ketuaannya adalah kelebihan yang tidak kita miliki.. dan memang pengalamannya tentag hidup lebih banyak dari kita…..
“Ikhlaskan masa lalu… kita jalani hari ini dan menatap masa depan dengan optimis”
WaAllahu a’lam…
Meurandeh. 25 juni 2010.
(Q.S.Al-‘ashri:1-3)
Menyikapi ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah berkata..:”Seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya…” Apa maksudnya?? Surat ini merupakan intisari bahwa hidup adalah kumpulan waktu.. yang tak mampu menggunakan waktu dialah yang dijamin bakal merugi,,persis seperti orang yang sudah mati..
Waktu,,,,,!!!!!! Lalai,,,,, maka kan mati???????
“Aduhaiii…….!!! Seandainya waktu bisa diputar ulang,aku akan memilih waktu dimana dulu aku bisa berbahagia hidup bersama kedua orang tuaku,, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan aku pun tidak akan melakukan kesalahan yang sama,, Sehingga tidak menyebabkan keluargaku hancur berantakan,,, tidak menyebabkan akau menjadi pengangguran,,,,, tidak menyebabkan akau di pecat dari perusaahaan,,, Tapi sayang ya!! Waktu tidak pernah kembali,, aku sulit tuk melupakan masa-masa indah itu,, sekaligus sulit melupakan kenangan pahit yang terus membekas di hatiku…””keluh seorang teman kepada kami pada saat sedang asyik duduk-duduk santai……
Ya,, Masa laluuuu…….!!!!
Adakah yang masih tersisa ?? masa lalu adalah dimana kita tidak akan mendaapatkannya kembali walau kita berdo’a hingga menangis darah sekalipun, masa lalu tidak akan bisa kita undang kembali lagi..Tetapi lihatlah diri kita..”Terkadang kita tersenyum-senyum sendiri ketika duduk sendirian di suatu tempat atau ketika kita “curhat” pada sahabat-sahabat kita. Pikiran kita mendarat di masa lalu,tatkala bunga-bunga musim semi bermekaran di dada kita,terbayang jelas di pelupuk mata kita tatkala kita tengah memadu kasih dengan sang kekasih, atau tatkala kita tengah mendapatkan rezeki yang tiada diduga-duga atau tatkala kita hirup udara kebersaman dengan orang – orang yang mencintai kita dan kita pun mencintai mereka,, membayangkan hal itu, tiba-tiba dada kita disesaki oleh keinginan yan mustahil “.. aduhai seandainya masa-masa indah itu bisa kembali lagi kepadaku…” dan ntah ucapan lain pa lagii!!!!..hehhee…..
Namun,dilain waktu, didalam kesendirian dan keheningan malam tiba-tiba ingatan kita mendarat pada tanah yang tandus dan gersang di masa lalu,, tempat kita menemukan orang yang kita cintai pergi meniggalkan kita,, tempat dimana orang-orang yang kita cintai berubah membenci kita,, Tak terasa air mata kita mengalir deras membasahi kedua pipi kita, kita menangisi kenyataan pahit di masa lalu dan itu kita lakukan di waktu sekarang.
Jadi,, Apa yang harus kita lakukan?? Haruuuskah kita menangisi peristiwa yang sudah lalu?? Atau haruskah kita tertawa dengan peristiwa yang sudah lalu?? kenapa kita lakukan hal itu?? Kita hidup saat ini, yang sedang kita hadapi adalah kenyataan di depan kita sekarang, baik atau buruk keadaan kita sekarang itulah yang mesti kita hadapi…. Maka sekiranya kita sekarang ini sedang menghadapi beban yang terasa begitu berat,, jangan lantas kita menambahnya dengan mengingat-ingat kebahagiaan yang pernah kita alami di masa lalu,, Sebaliknya.. Tatakala kita sedang merasakan kenikmatan dan kebahagian hidup,, jangan lantas kita bandingkan kebahagiaan hidup kita saat ini dengan keadaan hidup kita di masa lalu.. karena bila kita melakukannya,, kita akan sulit untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita.
Mungkin kita sering mendengar tentang seorang perempuan yang mengalami trauma dalam percintaanya,, hehhe…… lalu dia berjanji tuk tidak kan jatuh cinta lagi… Kenapa hal itu terjadi?? Yaaa,,, sebab iya trauma dengan masa lalunya,,,,di sakiti,, khianati,, tau di duakan,, hehhhe ,,,, taupun peristiwa-peristiwa yang lainya,yang membuat seseorang itu trauma dengan sesuatu…
Heheh,,,,, jangan begiituuuu!!!!!!!!!!!!!
Kenapa kita harus sedih dengan peristiwa yang sudah lalu?? Kenapa juga kita mesti senang dengan peristiwa yang sudah lalu?? Memang kita harus menyadari bahwa masa lalu itu tidak akan bisa kita lupakan,, tetapi itu bukan berarti masa lalu harus kita ingat teruuus,,, masa lalu bukan untuk dilupakan dan bukan pula untuk di ingat-ingat.. tetapi satu-satunya jalan tengah yang harus kita lakukan adalah “mengikhlaskannya”.
Ya.!!!! Ikhlas.. mengikhlaskannya…….
Ikhlas terhadap semua yang sudah terjadi pada diri kita,, baik itu senang maupun susah,,,sengsara maupun bahagia yang telah terjadi pada hidup kita… mari kita mengikhlaskannya.. sebab masa lalu itu sudah sirna dari kehidupan kita,, jangan kia ungkit-ungkit lagi,, ambillah pelajaran darinya (masa lalu) .. jadilah diri kita sekarang ini…. Tentunya yang lebih baik,, kita tatap masa depan dan jangan kita berpaling ke masa lalu,,, kecuali hanya untuk kita mengambil hikmah taupun pelajaran dari masa lalu itu.. seperti pernyataan dalam (Q.S.Yusuf[12]:111)….. dan kita perbanyak “menimba” pengetahuan dan wawasan serta pengalaman masa lalu dari orang-orang yang lebih tua dari kita,, sebab ketuaannya adalah kelebihan yang tidak kita miliki.. dan memang pengalamannya tentag hidup lebih banyak dari kita…..
“Ikhlaskan masa lalu… kita jalani hari ini dan menatap masa depan dengan optimis”
WaAllahu a’lam…
Meurandeh. 25 juni 2010.
Minggu, 30 Mei 2010
siapa yang lebih jahiliyyah dari orang-orang jahiliyyah??
Ketika kita bicara tentang kehidupan orang-orang jahiliyyah atau sebelum Muhammad SAW diangkat menjad Rasul, minimal ada 4 (empat) hal kebiasaan yang sering mereka lakukan. Yakni:
1.mereka suka berjudi (mengundi nasib)
2.mereka suka minum khamar (mabok)
3.mereka suka berzina.
4.mereka membunuh hidup-hidup anak perempuan mereka.
Setidaknya empat hal inilah yang sering dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah. Mengapa mereka melakukannya?? Hal ini terjadi karna mereka jauh dari nilai-nilai ketauhidan,mereka tidak mengenal dan paham siapa Tuhan mereka. Sehingga karna hal inilah mereka disebut Jahiliyyah yang bermakna Bodoh,, bodoh atau ketidak tahuannya tentang Hakikat Sang Pencipta.”ilmu ketauhidan”
Sebelum Islam datang,kehidupan sosial masyrakat pada saat itu sangat “amburadul” dan semerawut,dalam artian tidak ada kehidupan yang seimbang karena pola kehidupan yang ada hanya pola kehidupan “yang kuat yang berkuasa” sehingga yang lemah akan terus tertindas.Mereka (orang Jahiliyyah) suka menghamburkan harta kekayaan yang mereka miliki hanya untuk bersenang senang, dengan cara bermain judi,mengundi nasib dan lain sebagainya.Sehingga rutinitas yangterlihat setiap harinya adalah aktifitas perjudian dan bilamana ada orang yang tidak mau ikut berjudi maka mereka diberi julukan dengan julukan “baram” yang artinya Bakhil bin pelit (orang kikir). Karena tidak mau ikut menyumbang untuk fakir miskin,, itu katanya.
Selain menghabiskan harta dengan cara berjudi,mereka juga menghabiskan kekayaan yang mereka miliki untuk berfoya-foya dengan cara “clubbing” kalau sebutan kita sekarang…hehe,,,, disana mereka berkumpul dengan teman-teman mereka ataupun sendiri untuk minum khamar (arak), yang mereka anggap sebagai obat yang mujarab untuk menghilangkan stress yang sedang melanda dan menyelimuti diri mereka. Tidak hanya ketika dilanda stress saja, tapi di setiap ada acara atau kegiatan tertentu, mereka selalu menempatkan khamar sebagai sajian yang tidak boleh tidak harus ada.”menu utama”
Begitulah sederet potret pola kehidupan masyarakat-mayarakat sebelum islam datang.Bahkan yang lebih parah dan sangat “menyedihkan” mereka membunuh anak mereka hidup-hidup, bilamana anak yang dilahirkan itu adalah anak perempuan.. mengapa mereka membunuhnya?? Karena mereka menganggap anak perempuan sebagai aib keluarga, tidak bisa menjadi panutan, tidak bisa menjadi penerus keluarga dan alasan-alasan lainnya.
Namun pada saat islam datang, secara perlahan pola kehidupan seperti itu pun berangsur-angsur dihilangkan. Kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih beradab dan bermartabat dengan di utusnya Muhammad SAW sebagai Rasul di permukaan Bumi ini. Muhammad SAW di utus sebagai “Rahmatan lil’alamin” , pembawa kedamaian dan ketentraman,, tidak hanya untuk kalangan orang-orang atau masyarakat Arab saja tapi juga untuk kehidupan masyarakat dan makhluk hidup lainya yang hidup di Alam nan Raya ini. Dengan salah satu Mu’jizatnya yakni al-Quranulkarim yang berisi tentang petunjuk dan pedoman hidup, baik untuk kehidupan di Dunai ini maupun setelah kehidupan di dunia ini (akhirat).
Rasul SAW dan Para Sahabatnya menjadi masyarakat yang “disegani” oleh masyarakat lainnya di dunia ini. Karena keistiqamahannya dalam ber’ubudiah kepada Allah SWT dan berpegang teguh dengan al-qur’an`dan hadits Nabi SAW, serta memahai makna setiap ayat yang terdapat dalam al-qur’an guna di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal “Jika ingin melihat isi al-qur’an maka lihatlah kehidupan sehari-hari Rasul SAW dan sahabatnya”. Ini adalah sebuah ungkapan yang tentunya berdasarkan dengan fakta dan realita yang ada dan terjadi.
Setelah kita melihat sekilas tentang gambaran bagaimana kehidupan masyarakat-masyarakat sebelum kita,yakni orang-orang terdahulu. Dimulai dari kehidupan yang tidak bermartabat mejadi bermartabat dengan islam dan dari kehidupan yang “semerawut”menjadi kehidupan yang teratur dengan al-qur’an dan sunnah Nabi SAW.
Lalu bagaimana dengan kehidupan masyarakat kita sekarang? Apakah kita lebih baik atau lebih buruk dari kehidupannya orang-orang jahiliyyah? Atau apakah kehidupan masyarakat kita sekarang telah menjadi pemeluk agama islam yang “Kaffah”? Tentunya pertanyaan –pertannyaan ini dapat dengan mudah kita jawab dengan melihat realita yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari hari.
Islam telah sampai kepada kita dengan pengajaran dan pedoman yang sangat komplit, lengkap dengan perumpamaannya , baik itu perumpamaan yang baik maupun yang buruk dari orang-orang terdahulu. Guna kita jadikan pelajaran dan lentera di dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Namun amat disayangkan ada sebagian kita atau mungkin termasuk kita didalamnya yang merusak dan mengabaikan aturan dan ajaran yang tertera dalam al-qur’an, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan begitu juga dengan apa yang baginda Nabi SAW ajarkan dan contohkan kepada kita.
Masyarakat kita sekarang yag hidup di zaman modern atau ada juga yang menyebutnya kita sekarang ini hidup dizaman global ataupun digital. Terlepas dari semua itu, kita melihat bahwa kehidupan kita sekarang ini seolah tanpa batas, ruang dan waktu. “dunia dalam genggaman “ atau ada juga yang menyebutnya “bumi ini bisa dikantongi”. Semua ini timbul, karena kita bisa dengan mudahnya berkomunikasi degan teman-teman atau saudara kita yang berbeda daerah dengan kita, bahkan juga negara yang berbeda.Namun meskipun kita telah hidup di zaman yang serba canggih ini. Kita masih saja tidak bisa lepas dari adat istiadatnya orang-orag jahiliyyah. Yakni banyak dari kita yang masih minum khammar (arak) dan juga berjudi, padahal dengan jelas bahwa kedua perbuatan itu dilarang oleh Allah SWT sebagaimana tertera dalam Q.S.(Al-Baqarah :219) (Al-Maidah: 90-91) begitu juga dalam hadits-hadits Nabi SAW yang terdapat dalam kitab hadits syarah imam muslim juz XV hal 15.
Ada beberapa desa yang menjadikan khamar sebagai minuman “wajib”, yang mesti ada pada setiap acara perkawinan anaknya ataupun acara sunatan anak-anaknya. Mau tua muda sama saja seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka minum sesuka hati.. Begitu juga dengan judi, masyarakat kita sekarang ini masih banyak yang tidak bisa lepas dari judi, mau dia itu kaya ,miskin, tua, muda semua berjudi. Di mulai dari judi kecil-kecilan sampai pada yang taruhanya rumah ,mobil bahkan ada juga yang menjadikan istrinya sebagai taruhan di meja judi…… Judi “Togel” yang setiap harinya ada saja yang ikut serta. Yang mana dulunya judi togel ini dilarang dan “meredup sejenak”. Tapi sekarang permainan judi ini kembali muncul kepermukaan bak jamur yang tumbuh dimusim hujan. Piala Dunia yang tak lama lagi, ini akan menjadi ajang permainan judi besar-besaran dari mulai “kelas teri” sampai “kelas hiu” kalau kata teman saya hehhehe….. dari mulai masyarakat pedesaan sampai perkotaan tidak ada beda, yang membuat beda! hanya taruhannya saja … Inilah sekelumit realita dan fenomaena yang terjadi dalam masyarkat kita sekarang ini.
Selanjutnya yang terakhir, masyarakat kita suka membunuh anaknya hidup-hidup.. kalau orang-orang jahiliyyah dulu membunuh anaknya setelah lahir.. yakni bila yang dilahirkan itu perempuan, baru mereka bunuuh… namun masyarakat kita sekarang lebih parah lagi dari itu….yakni kita,, masyarakat kita telah membunuh anaknya sebelum anak itu di lahirkan kepermukaan bumi ini.. “masih dalam perut”,, hehhe kalau kata masyarakat kita itu bukan membunuh tapi “menggugurkan dan kb” terlepas ntah istilah apa yang kita pakai yang jelas masyarakat kita telah membunuh sebelum anak tersebut sempat menghirup udara bumi ini…. Kita belum sempat tau jenis kelamin anak yang akan di lahirkan, namun kita tlah membunuhnya dengan cara kb,, bukankah ini lebih hina dan memalukan??
Jadi, dari 3 gambaran yang telah kami uraikan diatas ,mana masyarakat yang hidupnya paling baik dan juga paling buruk?? Apa yang menyebabkan mereka menjadi paling baik dan juga paling buruk?? Tentunya kita sangat mudah menjawabnya,, bahwa yang paling baik adalah masyarakat yang hidup pada zaman Muhammad SAW dan sahabatnya,,, dan yang paling buruk adalah masayarkat yang hidup di zaman kita sekarang ini… Mengapa??? Karena kita sudah mendapatkan informasi yang begitu banyak, tapi masih saja kita mengabaikan informasi dan petunjuk tersebut,,, atau kita hanya “pura-pura tidak tahu”,,,Apakah inipengaruh dari globalisasi ??? ataukah ini pengaruh dari digitalisasi???? Entahlaha,,,, yang jelas kita sudah semakin semerawut saja,,
Kita masih saja terjebak dengan isme-isme yang menghanyutkan kita,kita masih senang dengan buaian kemewahan yang ada,, sehingga kita di bwat buta dengan begitu banyaknya media informasi yang tersedia,, tidak hanya di kota tapi juga di desa,,, informai yang begitu banyak,dan dengan mudahnya bisa kita dapatkan hanya kita manfaatkan sperti “makanan” tau ntah apaalah istilah yang tepatnya!
tapi yang pasti supaya kita bisa hidup lebih baik lagi kita harus menjadikan qur'an sebagai bacaan utama dalam kehidupan sehari hari kita,,,kita baca,, pahami dan amalkan ... serta tanyakan kepada ahlinya,,, karna hal ini sudah sangat jarang dan langka dilakukan oleh orang-orang islam,,,
mungkin masih banyak lagi realita yang terjadi.. slain daria realita yang diatas tadi....WaAllahu a’lam……
El-Badui,,,30 Mei 2010
1.mereka suka berjudi (mengundi nasib)
2.mereka suka minum khamar (mabok)
3.mereka suka berzina.
4.mereka membunuh hidup-hidup anak perempuan mereka.
Setidaknya empat hal inilah yang sering dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah. Mengapa mereka melakukannya?? Hal ini terjadi karna mereka jauh dari nilai-nilai ketauhidan,mereka tidak mengenal dan paham siapa Tuhan mereka. Sehingga karna hal inilah mereka disebut Jahiliyyah yang bermakna Bodoh,, bodoh atau ketidak tahuannya tentang Hakikat Sang Pencipta.”ilmu ketauhidan”
Sebelum Islam datang,kehidupan sosial masyrakat pada saat itu sangat “amburadul” dan semerawut,dalam artian tidak ada kehidupan yang seimbang karena pola kehidupan yang ada hanya pola kehidupan “yang kuat yang berkuasa” sehingga yang lemah akan terus tertindas.Mereka (orang Jahiliyyah) suka menghamburkan harta kekayaan yang mereka miliki hanya untuk bersenang senang, dengan cara bermain judi,mengundi nasib dan lain sebagainya.Sehingga rutinitas yangterlihat setiap harinya adalah aktifitas perjudian dan bilamana ada orang yang tidak mau ikut berjudi maka mereka diberi julukan dengan julukan “baram” yang artinya Bakhil bin pelit (orang kikir). Karena tidak mau ikut menyumbang untuk fakir miskin,, itu katanya.
Selain menghabiskan harta dengan cara berjudi,mereka juga menghabiskan kekayaan yang mereka miliki untuk berfoya-foya dengan cara “clubbing” kalau sebutan kita sekarang…hehe,,,, disana mereka berkumpul dengan teman-teman mereka ataupun sendiri untuk minum khamar (arak), yang mereka anggap sebagai obat yang mujarab untuk menghilangkan stress yang sedang melanda dan menyelimuti diri mereka. Tidak hanya ketika dilanda stress saja, tapi di setiap ada acara atau kegiatan tertentu, mereka selalu menempatkan khamar sebagai sajian yang tidak boleh tidak harus ada.”menu utama”
Begitulah sederet potret pola kehidupan masyarakat-mayarakat sebelum islam datang.Bahkan yang lebih parah dan sangat “menyedihkan” mereka membunuh anak mereka hidup-hidup, bilamana anak yang dilahirkan itu adalah anak perempuan.. mengapa mereka membunuhnya?? Karena mereka menganggap anak perempuan sebagai aib keluarga, tidak bisa menjadi panutan, tidak bisa menjadi penerus keluarga dan alasan-alasan lainnya.
Namun pada saat islam datang, secara perlahan pola kehidupan seperti itu pun berangsur-angsur dihilangkan. Kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih beradab dan bermartabat dengan di utusnya Muhammad SAW sebagai Rasul di permukaan Bumi ini. Muhammad SAW di utus sebagai “Rahmatan lil’alamin” , pembawa kedamaian dan ketentraman,, tidak hanya untuk kalangan orang-orang atau masyarakat Arab saja tapi juga untuk kehidupan masyarakat dan makhluk hidup lainya yang hidup di Alam nan Raya ini. Dengan salah satu Mu’jizatnya yakni al-Quranulkarim yang berisi tentang petunjuk dan pedoman hidup, baik untuk kehidupan di Dunai ini maupun setelah kehidupan di dunia ini (akhirat).
Rasul SAW dan Para Sahabatnya menjadi masyarakat yang “disegani” oleh masyarakat lainnya di dunia ini. Karena keistiqamahannya dalam ber’ubudiah kepada Allah SWT dan berpegang teguh dengan al-qur’an`dan hadits Nabi SAW, serta memahai makna setiap ayat yang terdapat dalam al-qur’an guna di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal “Jika ingin melihat isi al-qur’an maka lihatlah kehidupan sehari-hari Rasul SAW dan sahabatnya”. Ini adalah sebuah ungkapan yang tentunya berdasarkan dengan fakta dan realita yang ada dan terjadi.
Setelah kita melihat sekilas tentang gambaran bagaimana kehidupan masyarakat-masyarakat sebelum kita,yakni orang-orang terdahulu. Dimulai dari kehidupan yang tidak bermartabat mejadi bermartabat dengan islam dan dari kehidupan yang “semerawut”menjadi kehidupan yang teratur dengan al-qur’an dan sunnah Nabi SAW.
Lalu bagaimana dengan kehidupan masyarakat kita sekarang? Apakah kita lebih baik atau lebih buruk dari kehidupannya orang-orang jahiliyyah? Atau apakah kehidupan masyarakat kita sekarang telah menjadi pemeluk agama islam yang “Kaffah”? Tentunya pertanyaan –pertannyaan ini dapat dengan mudah kita jawab dengan melihat realita yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari hari.
Islam telah sampai kepada kita dengan pengajaran dan pedoman yang sangat komplit, lengkap dengan perumpamaannya , baik itu perumpamaan yang baik maupun yang buruk dari orang-orang terdahulu. Guna kita jadikan pelajaran dan lentera di dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Namun amat disayangkan ada sebagian kita atau mungkin termasuk kita didalamnya yang merusak dan mengabaikan aturan dan ajaran yang tertera dalam al-qur’an, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan begitu juga dengan apa yang baginda Nabi SAW ajarkan dan contohkan kepada kita.
Masyarakat kita sekarang yag hidup di zaman modern atau ada juga yang menyebutnya kita sekarang ini hidup dizaman global ataupun digital. Terlepas dari semua itu, kita melihat bahwa kehidupan kita sekarang ini seolah tanpa batas, ruang dan waktu. “dunia dalam genggaman “ atau ada juga yang menyebutnya “bumi ini bisa dikantongi”. Semua ini timbul, karena kita bisa dengan mudahnya berkomunikasi degan teman-teman atau saudara kita yang berbeda daerah dengan kita, bahkan juga negara yang berbeda.Namun meskipun kita telah hidup di zaman yang serba canggih ini. Kita masih saja tidak bisa lepas dari adat istiadatnya orang-orag jahiliyyah. Yakni banyak dari kita yang masih minum khammar (arak) dan juga berjudi, padahal dengan jelas bahwa kedua perbuatan itu dilarang oleh Allah SWT sebagaimana tertera dalam Q.S.(Al-Baqarah :219) (Al-Maidah: 90-91) begitu juga dalam hadits-hadits Nabi SAW yang terdapat dalam kitab hadits syarah imam muslim juz XV hal 15.
Ada beberapa desa yang menjadikan khamar sebagai minuman “wajib”, yang mesti ada pada setiap acara perkawinan anaknya ataupun acara sunatan anak-anaknya. Mau tua muda sama saja seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka minum sesuka hati.. Begitu juga dengan judi, masyarakat kita sekarang ini masih banyak yang tidak bisa lepas dari judi, mau dia itu kaya ,miskin, tua, muda semua berjudi. Di mulai dari judi kecil-kecilan sampai pada yang taruhanya rumah ,mobil bahkan ada juga yang menjadikan istrinya sebagai taruhan di meja judi…… Judi “Togel” yang setiap harinya ada saja yang ikut serta. Yang mana dulunya judi togel ini dilarang dan “meredup sejenak”. Tapi sekarang permainan judi ini kembali muncul kepermukaan bak jamur yang tumbuh dimusim hujan. Piala Dunia yang tak lama lagi, ini akan menjadi ajang permainan judi besar-besaran dari mulai “kelas teri” sampai “kelas hiu” kalau kata teman saya hehhehe….. dari mulai masyarakat pedesaan sampai perkotaan tidak ada beda, yang membuat beda! hanya taruhannya saja … Inilah sekelumit realita dan fenomaena yang terjadi dalam masyarkat kita sekarang ini.
Selanjutnya yang terakhir, masyarakat kita suka membunuh anaknya hidup-hidup.. kalau orang-orang jahiliyyah dulu membunuh anaknya setelah lahir.. yakni bila yang dilahirkan itu perempuan, baru mereka bunuuh… namun masyarakat kita sekarang lebih parah lagi dari itu….yakni kita,, masyarakat kita telah membunuh anaknya sebelum anak itu di lahirkan kepermukaan bumi ini.. “masih dalam perut”,, hehhe kalau kata masyarakat kita itu bukan membunuh tapi “menggugurkan dan kb” terlepas ntah istilah apa yang kita pakai yang jelas masyarakat kita telah membunuh sebelum anak tersebut sempat menghirup udara bumi ini…. Kita belum sempat tau jenis kelamin anak yang akan di lahirkan, namun kita tlah membunuhnya dengan cara kb,, bukankah ini lebih hina dan memalukan??
Jadi, dari 3 gambaran yang telah kami uraikan diatas ,mana masyarakat yang hidupnya paling baik dan juga paling buruk?? Apa yang menyebabkan mereka menjadi paling baik dan juga paling buruk?? Tentunya kita sangat mudah menjawabnya,, bahwa yang paling baik adalah masyarakat yang hidup pada zaman Muhammad SAW dan sahabatnya,,, dan yang paling buruk adalah masayarkat yang hidup di zaman kita sekarang ini… Mengapa??? Karena kita sudah mendapatkan informasi yang begitu banyak, tapi masih saja kita mengabaikan informasi dan petunjuk tersebut,,, atau kita hanya “pura-pura tidak tahu”,,,Apakah inipengaruh dari globalisasi ??? ataukah ini pengaruh dari digitalisasi???? Entahlaha,,,, yang jelas kita sudah semakin semerawut saja,,
Kita masih saja terjebak dengan isme-isme yang menghanyutkan kita,kita masih senang dengan buaian kemewahan yang ada,, sehingga kita di bwat buta dengan begitu banyaknya media informasi yang tersedia,, tidak hanya di kota tapi juga di desa,,, informai yang begitu banyak,dan dengan mudahnya bisa kita dapatkan hanya kita manfaatkan sperti “makanan” tau ntah apaalah istilah yang tepatnya!
tapi yang pasti supaya kita bisa hidup lebih baik lagi kita harus menjadikan qur'an sebagai bacaan utama dalam kehidupan sehari hari kita,,,kita baca,, pahami dan amalkan ... serta tanyakan kepada ahlinya,,, karna hal ini sudah sangat jarang dan langka dilakukan oleh orang-orang islam,,,
mungkin masih banyak lagi realita yang terjadi.. slain daria realita yang diatas tadi....WaAllahu a’lam……
El-Badui,,,30 Mei 2010
Rabu, 14 April 2010
Kurikulum dan Pengembangannya!!
PENDAHULUAN
Pada dasarnya kurikulum ditentukan oleh Guru (tenaga kependidikan). Guru pelatih Widyaswara) turut serta menyusun kurikulum, duduk dalam suatu panitia pengembangan panitia pengembangan kurikulum atau memberikan masukan kepada panitia pengembangan kurikulum. Prosedur apapun yang di tempuh dalam pengembangan kurikulum, guru tetap memegang pada peranan yang penting, karena guru merupakan unsur yang penting yang menentukan berhasil atau gagalnya pelaksanaan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan (sekolah). Guru terlibat langsung secara aktif dalam pelaksanaan kurikulum bersama para siswa, guru menentukan topic pengajaran bahan-bahan yang akan diajarkan, metode yang di gunakan, alat yang dipilih dan dipergunakan serta mengevaluasi hasil pelaksanaan kurikulum.
Guru memegang peranan penting dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum, dan oleh karenanya guru harus memahami dangan baik masalah kurikulum.
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah di tetapkan.
PEMBAHASAN
PRINSIP DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM.
1.Prinsip yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
Ada berbagai prinsip pengembangan kurikulum yang merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut pengembangan kurikulum dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau kita dapat menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu tidak mustahil bahwa suatu kurikulum menggunakan prinsip-prinsip yang berlainan dengan yang di gunakan kurikulum lain. Berbagai prinsip pengembangan kurikulum tersebut diantaranya :
a.Prinsip relevansi.
Pengembangan kurikulum dengan memilih jabarah komponen-komponen kurikulum agar sesuai (relevan) dengan berbagai tuntutan maka pada saat itu ia sedang menerapkan prinsip relevansi pengembangan kurikulum. Relevansi berarti sesuia antara komponen tujuan. Isi / pengalaman belajar organisasi, dan evaluasi kurikulum dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang didealkan Nana sy, sukaminata ( 1988-167-168) membedakan relevansi menjadi 2 macam :
a.Relevansi keluar maksudnya kujuan,isi dan proses belajara yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
b.Relevasi kedalam maksudnya terjalin relevansi diantara komponen-konponen kurikulum, tujuan isi, proses penyampaian dan isi.
b.Prinsip Kontinuitas
Komponen kurikulum yakni tujuan, isi pengalaman belajar, organisasi dan evaluasi dikembangkan secara berkesinambungan. Prinsip kontinuitas atau berkesinambungan menghendaki pengembangan kurikulum yang berkesinambungan secara vertical dan berkesinambungan secara horizontal. Subtansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompentensi, bidang lanjutan kenmelan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
c.Prinsip Fleksibilitas
Para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai.
d.Prinsip orientasi pada tujuan.
Dosen berusaha agar semua kegiatan kurikuler ditunjukan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.
e.Prinsip efisiensi
Dosen berusaha agar supaya segala kegiatan kurikuler dapat diselenggarakan dengan menggunakan waktu, tenaga, biaya, dan sumber-sumber lain dengan sehemat-hematnya, tetapi dengan hasil kegiatan kurikuler yang memadai.
f.Prinsip efektivitas
Dosen berusaha agar supaya segala kegiatan kurikuler dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah di rumuskan tanpa melakukan kegiatan –kegiatan yang kurang perlu.
g.Prinsip berusaha agar supaya semua kegiatan kurikuler mempunyai arah dan tujuan yang sama, sehingga suatu kegiatan kirikuler jangan sampai bertentangan atau menghambat kegitan-kegiatan kurikuler lain.
h.Prinsip objektivitas
Dosen berusaha agar setiap kegiatan kurikuler dilaksanakan dengan pedoman pada kebenaran ilmiah dan jangan sampai terbawa oleh pengaruh-pengaruh enosial dan rasional.
I.Prinsip Demokrasi
Dosen berusaha agar supaya pelaksanaan kurikuler di kelola secara demokratis.
Dengan pesatnya perkembangan Ilmu pegetahuan dan teknologi, maka satu hal yang sangat penting bagi dosen dalam pengembangan kurikulum ialah berusaha agar materi kurikulum bersumber dari ilmu pengetahuan dan teknologi mdern dan agar materi kurikulum senantiasa berada dalam proses pembahuruan.
2.Faktor- Faktor yang mempegaruhi pengembanagan kurikulum.
Ada lima faktor penting yang mesti diperhatiakn dalam pengembangan kurikulum, ialah :
1.Filsafat pendidikan
2.Masyarakat
3.Siswa
4.Proses belajar, dan
5.bentuk kurikulum
a.Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan nilai-nilai atau cita-cita itulah ditetapkan akan dibawa kemana pendidikan peserta didik. Filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat tentang manusia ideal. Karena itu, Filsafat pendidikan menjadi landasan dalam upaya menentukan kelompok tujuan dan prinsip –prinsip untuk menentukan pengalaman-pengalaman yang bersifat mendidik.
b.Masyarakat
Sekolah yang mendidik siswa menjadi warga masyarakat yang modern harus menyesuaikan kurikulumnya dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat itu. Masyarakat yang sedang membangun dimana diperlukan tenaga-tenaga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, menghendaki agar kurikulum disekolah dapat memenuhi aspirasi tersebut dengan sebaik-baiknya.
c.Siswa dan proses belajar
Didalam pembinaan kurikulum siswa dan proses belajar harus menjadi landasan dalam arti bahwa kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa. Kurikulum yang dan tingkat perkembangan siswa. Kurikulum seimbang ialah apabila kurikulumitu dapat di hayati oleh siswa dan mengarahkan ketinakan perkembangan ketingkat yang lebih dewasa yakni terbentuklah prodi yang terintegrasi.
d.Bentuk-bentuk kurikulum
Organisasi kurikulum terdiri dari berbagai bentuk, dan masing-masing memiliki cirri-cirinya tersendiri.
1)Mata pelajaran yang terpisah –pisah (isolated subjects)
Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah –pisah : sejarah Ilmu bumi, Ilmu pasti, bahasa Indonesia.
2)Mata pelajaran Mata pelajaran berkoreksi (correlatea)
Korelasi ini dilakukan sebagai usaha untuk menguji kelemahan dan pemisahan mata pelajaran.caranya dengan menyampaiakan poko-pokok yang bersamaan dilantah dua atau lebih mata pelajaran yang sedang di pelajari.
3)Broad Field.
Bebarapa mata poelajaran yang sejenis, yang memiliki cirri-ciri yang sama dikorelasikan dalam satu bidang luas.misalnya : Broad Field bahwa meliputi membaca, bercerita, mengarang, bercakap-cakap .
4)Program yang berpusat pada siswa (child centered program).
Program ini adalah orientasi baru dimana kurikulum menitik beratkan kepada kegiatan-kegiatan siswa bukan kepada mata pelajaran. Buruh mempersiapkan program yang meliputi kegiatan-kegiatan yang menyajikan kehidupan bermain siswa. Misalnya ekskursi dan cerita.
5)Core Program
Core artinya inti atau pusat. Core program adalah suatu program inti, berupa suatu unit atau masalah-masalah ini diambil dari suatu mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam hubungan pemecahan masalah. Cirri arti suatu core program, ialah sebagai berikut :
a.Kelas dibagi menjadi dua periode yang sama setiap hari .
b.Rencana waktu bersifat fleksibel.
c.Seorang guru bertanggung jawab mengajar the core class, biasanya untuk selama dua tahun.
d.Guru dan murid bekerja sama memilih masalah dan bahan-bahan untuk unit kerja.
e.Kegiatan-kegiatan belajar dihubungkan dengan kemampuan, minat dan kebutuhan murid-murid dan kemungkinan susunannya didalam kegiatan-kegiatan diluar sekolah.
f.Mata pelajaran mata pelajaran dijadikan alat untuk mencapai tujuan dan pemecahan masalah.
g.Menggunakan bahan-bahan seperti : AVA, Sumber-sumber masyarakat, seni dan sebagainya.
h.Teknik pemecahan masalah disesuaikan bersama oleh guru dan murid dalam perencanaan, pemecahan masalah, diskusi kelompok, dan penilaian hasil belajar untuk mencapai tujuan.
i.Murid-murid ikut aktif dalam berbagai jenis kegiatan dalam rangka memecahkan masalah.
j.Guru menggunakan bermacam-macam alat dan teknik evaluasi terhadap perubahan kelakuan kepada siswa, murid menilai diri sendiri ( Self Evaluation ) berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan bersama.
6)Elektric Program
Elektric program adalah suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang berusul pada mata pelajaran dan yang berpusat pada siswa. Caranya ialah dengan memilih unsur-unsur yang dianggap baik yang terdapat pada kedua jenis organisasi tersebut, kemudian unsur-unsur tersebut di intergrasikan menjadi suatu program. Program ini sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemantasan siswa.
Scope dan Seguence-nya telah ditentukan sebelumnya dan kemudian perinciannya dikerjakan oleh guru dan siswa. Sebagian waktu disesuaikan untuk pengajaran langsung, misalnya pengajaran keterampilan dan sebagian waktu lainnya disediakan untuk unit kerja misalnya ilmu pengetahuan sosial. Selain itu disediakan kesempatan untuk kerja kreatif, mengembangkan apresiasi dan berbagai pengertian. Pembagian waktu disesuaikan untuk mencapai tujuan, karena itu bersifat fleksibel.
PENUTUP
Kesimpulan :
1.Prinsip yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
a.Prinsip relevansi
b.Prinsip Kontinuintas
c.Prinsip fleksibelitas
d.Prinsip Orientasi pada tujuan
e.Prinsip efisein
f.Prinsip efektifitas
g.Prinsip sinkronisasi
h.Prinsip objektifitas
i.Prinsip demokrasi
2.Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
1.Filsafat pendidikan
2.Masyarakat
3.Siswa
4.Proses belajar
5.Bentuk kurikulum
SARAN
-Agar dapat menambah wawasan bagi siapa saja yang membacanya dan menambah ilmu pengetahuan.
-Agar dapat pengembangan prinsip-prinsip yang harus dipakai khususnya pendidik.
Bahan Bacaan
-Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ) dan sukses dalam sertifikasi guru. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
-Dimayati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
-Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Angsara.
Pada dasarnya kurikulum ditentukan oleh Guru (tenaga kependidikan). Guru pelatih Widyaswara) turut serta menyusun kurikulum, duduk dalam suatu panitia pengembangan panitia pengembangan kurikulum atau memberikan masukan kepada panitia pengembangan kurikulum. Prosedur apapun yang di tempuh dalam pengembangan kurikulum, guru tetap memegang pada peranan yang penting, karena guru merupakan unsur yang penting yang menentukan berhasil atau gagalnya pelaksanaan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan (sekolah). Guru terlibat langsung secara aktif dalam pelaksanaan kurikulum bersama para siswa, guru menentukan topic pengajaran bahan-bahan yang akan diajarkan, metode yang di gunakan, alat yang dipilih dan dipergunakan serta mengevaluasi hasil pelaksanaan kurikulum.
Guru memegang peranan penting dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum, dan oleh karenanya guru harus memahami dangan baik masalah kurikulum.
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah di tetapkan.
PEMBAHASAN
PRINSIP DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM.
1.Prinsip yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
Ada berbagai prinsip pengembangan kurikulum yang merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut pengembangan kurikulum dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau kita dapat menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu tidak mustahil bahwa suatu kurikulum menggunakan prinsip-prinsip yang berlainan dengan yang di gunakan kurikulum lain. Berbagai prinsip pengembangan kurikulum tersebut diantaranya :
a.Prinsip relevansi.
Pengembangan kurikulum dengan memilih jabarah komponen-komponen kurikulum agar sesuai (relevan) dengan berbagai tuntutan maka pada saat itu ia sedang menerapkan prinsip relevansi pengembangan kurikulum. Relevansi berarti sesuia antara komponen tujuan. Isi / pengalaman belajar organisasi, dan evaluasi kurikulum dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang didealkan Nana sy, sukaminata ( 1988-167-168) membedakan relevansi menjadi 2 macam :
a.Relevansi keluar maksudnya kujuan,isi dan proses belajara yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
b.Relevasi kedalam maksudnya terjalin relevansi diantara komponen-konponen kurikulum, tujuan isi, proses penyampaian dan isi.
b.Prinsip Kontinuitas
Komponen kurikulum yakni tujuan, isi pengalaman belajar, organisasi dan evaluasi dikembangkan secara berkesinambungan. Prinsip kontinuitas atau berkesinambungan menghendaki pengembangan kurikulum yang berkesinambungan secara vertical dan berkesinambungan secara horizontal. Subtansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompentensi, bidang lanjutan kenmelan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
c.Prinsip Fleksibilitas
Para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai.
d.Prinsip orientasi pada tujuan.
Dosen berusaha agar semua kegiatan kurikuler ditunjukan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.
e.Prinsip efisiensi
Dosen berusaha agar supaya segala kegiatan kurikuler dapat diselenggarakan dengan menggunakan waktu, tenaga, biaya, dan sumber-sumber lain dengan sehemat-hematnya, tetapi dengan hasil kegiatan kurikuler yang memadai.
f.Prinsip efektivitas
Dosen berusaha agar supaya segala kegiatan kurikuler dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah di rumuskan tanpa melakukan kegiatan –kegiatan yang kurang perlu.
g.Prinsip berusaha agar supaya semua kegiatan kurikuler mempunyai arah dan tujuan yang sama, sehingga suatu kegiatan kirikuler jangan sampai bertentangan atau menghambat kegitan-kegiatan kurikuler lain.
h.Prinsip objektivitas
Dosen berusaha agar setiap kegiatan kurikuler dilaksanakan dengan pedoman pada kebenaran ilmiah dan jangan sampai terbawa oleh pengaruh-pengaruh enosial dan rasional.
I.Prinsip Demokrasi
Dosen berusaha agar supaya pelaksanaan kurikuler di kelola secara demokratis.
Dengan pesatnya perkembangan Ilmu pegetahuan dan teknologi, maka satu hal yang sangat penting bagi dosen dalam pengembangan kurikulum ialah berusaha agar materi kurikulum bersumber dari ilmu pengetahuan dan teknologi mdern dan agar materi kurikulum senantiasa berada dalam proses pembahuruan.
2.Faktor- Faktor yang mempegaruhi pengembanagan kurikulum.
Ada lima faktor penting yang mesti diperhatiakn dalam pengembangan kurikulum, ialah :
1.Filsafat pendidikan
2.Masyarakat
3.Siswa
4.Proses belajar, dan
5.bentuk kurikulum
a.Filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan nilai-nilai atau cita-cita itulah ditetapkan akan dibawa kemana pendidikan peserta didik. Filsafat pendidikan merupakan pandangan hidup masyarakat tentang manusia ideal. Karena itu, Filsafat pendidikan menjadi landasan dalam upaya menentukan kelompok tujuan dan prinsip –prinsip untuk menentukan pengalaman-pengalaman yang bersifat mendidik.
b.Masyarakat
Sekolah yang mendidik siswa menjadi warga masyarakat yang modern harus menyesuaikan kurikulumnya dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat itu. Masyarakat yang sedang membangun dimana diperlukan tenaga-tenaga yang memiliki pengetahuan dan keterampilan, menghendaki agar kurikulum disekolah dapat memenuhi aspirasi tersebut dengan sebaik-baiknya.
c.Siswa dan proses belajar
Didalam pembinaan kurikulum siswa dan proses belajar harus menjadi landasan dalam arti bahwa kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa. Kurikulum yang dan tingkat perkembangan siswa. Kurikulum seimbang ialah apabila kurikulumitu dapat di hayati oleh siswa dan mengarahkan ketinakan perkembangan ketingkat yang lebih dewasa yakni terbentuklah prodi yang terintegrasi.
d.Bentuk-bentuk kurikulum
Organisasi kurikulum terdiri dari berbagai bentuk, dan masing-masing memiliki cirri-cirinya tersendiri.
1)Mata pelajaran yang terpisah –pisah (isolated subjects)
Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah –pisah : sejarah Ilmu bumi, Ilmu pasti, bahasa Indonesia.
2)Mata pelajaran Mata pelajaran berkoreksi (correlatea)
Korelasi ini dilakukan sebagai usaha untuk menguji kelemahan dan pemisahan mata pelajaran.caranya dengan menyampaiakan poko-pokok yang bersamaan dilantah dua atau lebih mata pelajaran yang sedang di pelajari.
3)Broad Field.
Bebarapa mata poelajaran yang sejenis, yang memiliki cirri-ciri yang sama dikorelasikan dalam satu bidang luas.misalnya : Broad Field bahwa meliputi membaca, bercerita, mengarang, bercakap-cakap .
4)Program yang berpusat pada siswa (child centered program).
Program ini adalah orientasi baru dimana kurikulum menitik beratkan kepada kegiatan-kegiatan siswa bukan kepada mata pelajaran. Buruh mempersiapkan program yang meliputi kegiatan-kegiatan yang menyajikan kehidupan bermain siswa. Misalnya ekskursi dan cerita.
5)Core Program
Core artinya inti atau pusat. Core program adalah suatu program inti, berupa suatu unit atau masalah-masalah ini diambil dari suatu mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam hubungan pemecahan masalah. Cirri arti suatu core program, ialah sebagai berikut :
a.Kelas dibagi menjadi dua periode yang sama setiap hari .
b.Rencana waktu bersifat fleksibel.
c.Seorang guru bertanggung jawab mengajar the core class, biasanya untuk selama dua tahun.
d.Guru dan murid bekerja sama memilih masalah dan bahan-bahan untuk unit kerja.
e.Kegiatan-kegiatan belajar dihubungkan dengan kemampuan, minat dan kebutuhan murid-murid dan kemungkinan susunannya didalam kegiatan-kegiatan diluar sekolah.
f.Mata pelajaran mata pelajaran dijadikan alat untuk mencapai tujuan dan pemecahan masalah.
g.Menggunakan bahan-bahan seperti : AVA, Sumber-sumber masyarakat, seni dan sebagainya.
h.Teknik pemecahan masalah disesuaikan bersama oleh guru dan murid dalam perencanaan, pemecahan masalah, diskusi kelompok, dan penilaian hasil belajar untuk mencapai tujuan.
i.Murid-murid ikut aktif dalam berbagai jenis kegiatan dalam rangka memecahkan masalah.
j.Guru menggunakan bermacam-macam alat dan teknik evaluasi terhadap perubahan kelakuan kepada siswa, murid menilai diri sendiri ( Self Evaluation ) berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan bersama.
6)Elektric Program
Elektric program adalah suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang berusul pada mata pelajaran dan yang berpusat pada siswa. Caranya ialah dengan memilih unsur-unsur yang dianggap baik yang terdapat pada kedua jenis organisasi tersebut, kemudian unsur-unsur tersebut di intergrasikan menjadi suatu program. Program ini sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemantasan siswa.
Scope dan Seguence-nya telah ditentukan sebelumnya dan kemudian perinciannya dikerjakan oleh guru dan siswa. Sebagian waktu disesuaikan untuk pengajaran langsung, misalnya pengajaran keterampilan dan sebagian waktu lainnya disediakan untuk unit kerja misalnya ilmu pengetahuan sosial. Selain itu disediakan kesempatan untuk kerja kreatif, mengembangkan apresiasi dan berbagai pengertian. Pembagian waktu disesuaikan untuk mencapai tujuan, karena itu bersifat fleksibel.
PENUTUP
Kesimpulan :
1.Prinsip yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
a.Prinsip relevansi
b.Prinsip Kontinuintas
c.Prinsip fleksibelitas
d.Prinsip Orientasi pada tujuan
e.Prinsip efisein
f.Prinsip efektifitas
g.Prinsip sinkronisasi
h.Prinsip objektifitas
i.Prinsip demokrasi
2.Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.
1.Filsafat pendidikan
2.Masyarakat
3.Siswa
4.Proses belajar
5.Bentuk kurikulum
SARAN
-Agar dapat menambah wawasan bagi siapa saja yang membacanya dan menambah ilmu pengetahuan.
-Agar dapat pengembangan prinsip-prinsip yang harus dipakai khususnya pendidik.
Bahan Bacaan
-Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ) dan sukses dalam sertifikasi guru. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
-Dimayati dan Mujiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
-Slameto. 1991. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Angsara.
Pendidikan Islam dan Tantangannya
PENDAHULUAN
1.LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DAN TANTANGAN MODERN
A.Pengertian Pendidikan Islam dan lembaga pendidikan islam.
Pendidikan Islam adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide. Pembentukan pribadi muslim
Pendidikan Islam itu sangat penting dilakukan di dalam kehidupan ini, karna pendidikan itu dapat merubah sikap seorang serta menjadikan seseorang itu menjadi terarah. Karna syariat Islam itu tidak akan dibanatu dan diamalkan orang kalau hanya di ajarkan saja. Tetapi harus di didik melalui proses pendidikan.
Agar terlaksanakan nya Islam dengan baik dan dapat berjalan dengan sempurna, maka di butuhkan nya suatu lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan dan relasi, yang ter’arah dalam menyikat individu guna tercapai nya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar .
PEMBAHASAN
B.Lembaga Pendidikan Islam
Dalam Islam, Pola tingkah laku yang telah melembaga pada jiwa setiap individu muslim mempunyai dua bagian
Lembaga yang tidak dapat berubah :
a.Rukun Iman
Yaitu lembaga kepercayaan manusia kepada tuhan, malaikat, kitab rasul, hari akhir dan takdir.
b.Ikrar kayakinan ( bacaan syahadatin )
c.Thaharah yaitu lembaga penyucian manusia dari segala kotoran baik lahir maupun batin
d.Shalat yaitu lembaga pembentukan pribadi
e.Zakat, yaitu lembaga pengembangan ekonomi umat.
f.Puasa, yaitu lembaga untuk mendidik jiwa
g.Haji yaitu lembaga pemersatu dalam komunikasi
h.Iksan yaitu lembaga yang melengkapi dan meningkatkan serta menyempurnakan amal dan ibadah manusia
i.Iklas yaitu lembaga pendidikan rasa dan budi sehingga tercapai suatu kondisi kenikmatan dalam beribadah dan beramal
j.Takwa yaitu lembaga yang menghubungkan antara manusia dan Allah SWT.
2.LEMBAGA YANG DAPAT BERUBAH
Lembaga yang dapat berubah diantaranya adalah
1.Ijtihad yaitu lembaga berfikir
2.Fiqih lembaga hukum Islam
3.Akhlak yaitu lembaga nilai-nilai tingkah laku yang di buat acuan
4.Lembaga pergaulan sosial
5.Lembaga Politik .
6.Lembaga Ekonomi
7.Lembaga negara
8.Lembaga pendidikan
9.Lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi
10.Lembaga seni
C.Lembaga proses pendidikan Islam
1.Keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam
Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan ( anak cucu ), perkawina (suami / istri ) persusuan dan pemerdekaan keluarga dalam pandangan antropologi adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerja sama ekonomi, berkembang, mendidik. Melindungi, merawat dan sebagainya.
Ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang berbeda sebagai pendidik anaknya, ayah berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT dan berkewajiban ibu adalah menjaga memelihara,dan mengelola keluarga di rumah suaminya terlebih lagi mendidik dan merawat anaknya.
Dalam sabda Nabi SAW dinyatakan dan perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai dari pimpinan itu “ ( H.R Bukhari –Muslim )
Anak merupakan amanah Allah SWT bagi kedua orang tuanya ia mempunyai jiwa yang suci dan cemerlang, Apabila ia sejak kecil di biasakan baik, di didik dan dilatih dengan kebaikan maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik. Sebaliknya apabila ia dibiasakan berbuat buruk pula dan menjadikan ia celaka dan rusak
Oleh karena itu dalam keluarga perlu dibentuk lembaga pendidikan walau pun dalam bentuk yang sederhana karena pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang harus dipenuhi oleh keluarga untuk menjadikan seorang anak itu baik.
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak didiknya adalah :
1.Dasar pendidikan budi pekerti
2.Dasar pendidikan sosial
3.Dasar pendidikan intelek
4.Dasar pembentukan kebiasaan
5.Dasar pendidikan keluarga negaraan
6.Dasar pendidikan agama.
2.Mesjid Sebagai Lembaga Pendidika Islam
Secara harfian, mesjid adalah “ tempat untuk bersujud : Namun dalam arti terminologi mesjid diartikan sebagai tempat khusus untuk melakukan aktivitas ibadah dalam arti luas.
Pendidikan Islam tingkat pemula lebih baik di lakukan di mesjid sebagai lembaga pengembangan pendidikan keluarga. Dengan menjadikan lembaga pendidikan dalam mesjid, akan terlihat hidupnya. Sunah-sunah Islam dan menghilangkan segala bid’ah karena itu mesjid merupakan lembaga kedua setelah lemabaga pendidikan keluarga yang jenjang pendidikan terdiri dari sekolah menenggah dan sekolah tinggi dalam waktu yang sama.
Implikasi mesjid sebagai lembaga pendidikan Islam adalah :
1.Mendidik anak untuk tetap beribadah kepada Allah SWT,
2.Menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban nya sebagai insan pribadi sosial, dan warga negara.
3.Memberikan rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi, potensi rohani manusia melalui pendidikan kesabaran renungan optimisme dan mengadakan penelitian
Fungsi mesjid dapat lebih efektif bila didalamnya disediakan fasilitas-fasilitas terjadinya proses belajar mengajar fasilitas yang di perlukan adalah sebagai berikut.
1.Perpustakaan
2.Ruang diskus
3.Ruang kuliah
3.Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam.
Pondok pasantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat seorang kiai ( pendidik ) yang mengajar dan mendidik para santri ( peserta didik ) dengan sarana mesjid yang digunakan untuk menyelengarakan pendidikan tersebut serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri .
Tujuan terbentuknya pondok pasantren
Pondok pasantren adalah :
1.Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam.
2.Tujuan khusus yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan.
Sebagai lembaga yang tertua, sejarah, sejarah perkembangan pondok pasantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat non klasikal yaitu model sistem pendidikan dengan metode pengajaran wetonan dan serongan.
4.Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam.
Madrasah merupakan Islam makna dari darasa yang berarti tempat untuk belajar. Istilah madrasah kini telah menyatu dengan Istilah sekolah atau perguruan ( terutama perguruan Islam )
Tugas lembaga madrsah sebagai lembaga pendidikan Islam adalah :
1.Merealisasikan pendidikan Islam yang didasarkan atas pikir akidah dan tasyri yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan Bentuk dan ralisasi itu ialah agar peserta didik beribadah, mentauhidkan Allah SWT.
2.Memelihara fitrah anak didik sebgai insan mulia agar ia tak menyimpang tujuan Allah menciptakannya.
3.Memberikan kepada anak didik dengan seperangkat peradaban dan kebudayaan Islami, dengan cara mengintegrasikan antara Ilmu-ilmu alam sosial ilmu esikta yang di landaskan atas ilmu-ilmu agama sehingga anak didik mampu melibatkan dirinya kepada perkembagan IPTEK.
4.Membersihkan pikiran den jiwa dari pengaruh subjektivitas ( emosi ) karena pengaruh jaman dewasa ini lebih mengarah pada penyimpangan fitrah manusiawi.
5.Memberikan wawasan nilai dan moral, serta peradaban manusia yang membawa khazanah pemikiran anak didik menjadi berkembang
6.Menciptakan suasana kesatuan dan kesamaan antara anak didik
7.Tujuan mengkoordinasi dan membenahi kegiatan pendidikan
8.Menyempurnakan tugas-tugas lembaga pendidikan keluarga, mesjid dan pasantren.
A.Problematika / Tantangan Lembaga Pendidikan Islam
Berbagai upaya telah di lakukan oleh para Ilmuan ulama yang banyak memprihatinkan tentang pelaksanaan pendidikan agama di lembaga-lembaga formal kita. Pelaksanaan program pendidikan agama di banyak sekolah kita belum berjalan seperti diharapkan oleh masyarakat karena berbagai kendala dalam bidang kemampuan pelaksanaanya, metodenya.
Berbagai faktor yang di identifikasikan penghambat dapat di simpulkan sebagai berikut
a.Faktor-faktor eksternal
1.Timbulnya sikap masyarakat atau orang tua di beberapa lingkungan sekolah yang kurang peduli kepada pentingnya pendidikan agama
2.Situasi lingkungan disekitar sekolah yang di pengaruhi oleh godaan-godaan setan yang beragam bentuknya
3.Timbulnya sikap prustasi dikalangan masyarakat orang tua bahwa tingkat pendidikan yang dengan susah payah di raih
4.Produksi Pendidikan di sekolah yang dicapai dalam waktu relatif singkat dengan dana yang semaksimal mungkin.
b.Faktor-faktor Internal Sekolah
1.Guru kurang kompeten untuk menjadi tenaga profesional
2.Penyalah gunaan menajemen penempatan yang mengalih tugas kan guru agama kebagian adminitrasi seperti perpustakaan misalnya, atau pekerjaan non guru
3.Pendekatan metodologi guru masih terpaku kepada orientasi tradisionalistis sehingga tidak mampu menarik minat murid kepada pelajaran agama.
4.Kurangnya rasa solidaritas antara guru agama dengan guru-guru bidang studi umum.
5.Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar karena disibukan dengan usaha non guru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari atau mengompreng di sekolah-sekolah swasta dan sebagainya.
6.Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat formal
7.Petugas supervisi ( Pengawas dan Pemilik ) tak berfungsi sesuai harapan.
KESIMPULAN
A.Pengertian pendidikan Islam dan Lembaga Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah usaha dan kegiatan yang dilakkukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan suruan Agama dengan terdakwah, agar terlaksanaya pendidikan Islam dengan baik dan dapat berjalan dengan sempurna maka dibutuhnya adanya lembaga.
B.Lembaga Pendidikan Islam
1.Lembaga yang tidak berubah
2.Lembaga yang tidak dapat berubah
C.Lembaga Proses pendidikan Islam
1.Keluarga
2.Mesjid
3.Pondok Pesantren
4.Madrasah
D.Problematika / tantangan pendidikan Islam
a.Faktor Exsternal
b.Faktor-faktor Internal Sekolah
Bahan Bacaan
1.DRS. Muhaimin, M.A.et,al Paradigma Pendidikan Islam, PT Remaja rosdakarya, bandung 2004
2.Muhammad bin jamil zainu, Solusi Pendidikan anak masa kini, Mustaqim, 2002
3.Prof. H.Muzayyin Arifin, Med, kapita Pendidikan Islam PT.Bumi Aksara, Jakarta 2007.
4.Dr.Abdul Muzib, M.Ag. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta kencana 2008
5.Dr. Zakiah Daradjad, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta 2008
6.Drs.Amasl Amri, Mpd, Studi filsafat Pendidikan, Banda Aceh Yayasan Pena, 2007.
1.LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DAN TANTANGAN MODERN
A.Pengertian Pendidikan Islam dan lembaga pendidikan islam.
Pendidikan Islam adalah usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide. Pembentukan pribadi muslim
Pendidikan Islam itu sangat penting dilakukan di dalam kehidupan ini, karna pendidikan itu dapat merubah sikap seorang serta menjadikan seseorang itu menjadi terarah. Karna syariat Islam itu tidak akan dibanatu dan diamalkan orang kalau hanya di ajarkan saja. Tetapi harus di didik melalui proses pendidikan.
Agar terlaksanakan nya Islam dengan baik dan dapat berjalan dengan sempurna, maka di butuhkan nya suatu lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan suatu bentuk organisasi yang tersusun relatif tetap atas pola-pola tingkah laku, peranan-peranan dan relasi, yang ter’arah dalam menyikat individu guna tercapai nya kebutuhan-kebutuhan sosial dasar .
PEMBAHASAN
B.Lembaga Pendidikan Islam
Dalam Islam, Pola tingkah laku yang telah melembaga pada jiwa setiap individu muslim mempunyai dua bagian
Lembaga yang tidak dapat berubah :
a.Rukun Iman
Yaitu lembaga kepercayaan manusia kepada tuhan, malaikat, kitab rasul, hari akhir dan takdir.
b.Ikrar kayakinan ( bacaan syahadatin )
c.Thaharah yaitu lembaga penyucian manusia dari segala kotoran baik lahir maupun batin
d.Shalat yaitu lembaga pembentukan pribadi
e.Zakat, yaitu lembaga pengembangan ekonomi umat.
f.Puasa, yaitu lembaga untuk mendidik jiwa
g.Haji yaitu lembaga pemersatu dalam komunikasi
h.Iksan yaitu lembaga yang melengkapi dan meningkatkan serta menyempurnakan amal dan ibadah manusia
i.Iklas yaitu lembaga pendidikan rasa dan budi sehingga tercapai suatu kondisi kenikmatan dalam beribadah dan beramal
j.Takwa yaitu lembaga yang menghubungkan antara manusia dan Allah SWT.
2.LEMBAGA YANG DAPAT BERUBAH
Lembaga yang dapat berubah diantaranya adalah
1.Ijtihad yaitu lembaga berfikir
2.Fiqih lembaga hukum Islam
3.Akhlak yaitu lembaga nilai-nilai tingkah laku yang di buat acuan
4.Lembaga pergaulan sosial
5.Lembaga Politik .
6.Lembaga Ekonomi
7.Lembaga negara
8.Lembaga pendidikan
9.Lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi
10.Lembaga seni
C.Lembaga proses pendidikan Islam
1.Keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam
Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan ( anak cucu ), perkawina (suami / istri ) persusuan dan pemerdekaan keluarga dalam pandangan antropologi adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan ditandai oleh kerja sama ekonomi, berkembang, mendidik. Melindungi, merawat dan sebagainya.
Ayah dan ibu mempunyai kewajiban dan memiliki bentuk yang berbeda sebagai pendidik anaknya, ayah berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya melalui pemanfaatan karunia Allah SWT dan berkewajiban ibu adalah menjaga memelihara,dan mengelola keluarga di rumah suaminya terlebih lagi mendidik dan merawat anaknya.
Dalam sabda Nabi SAW dinyatakan dan perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai dari pimpinan itu “ ( H.R Bukhari –Muslim )
Anak merupakan amanah Allah SWT bagi kedua orang tuanya ia mempunyai jiwa yang suci dan cemerlang, Apabila ia sejak kecil di biasakan baik, di didik dan dilatih dengan kebaikan maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik. Sebaliknya apabila ia dibiasakan berbuat buruk pula dan menjadikan ia celaka dan rusak
Oleh karena itu dalam keluarga perlu dibentuk lembaga pendidikan walau pun dalam bentuk yang sederhana karena pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama yang harus dipenuhi oleh keluarga untuk menjadikan seorang anak itu baik.
Dasar-dasar pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak didiknya adalah :
1.Dasar pendidikan budi pekerti
2.Dasar pendidikan sosial
3.Dasar pendidikan intelek
4.Dasar pembentukan kebiasaan
5.Dasar pendidikan keluarga negaraan
6.Dasar pendidikan agama.
2.Mesjid Sebagai Lembaga Pendidika Islam
Secara harfian, mesjid adalah “ tempat untuk bersujud : Namun dalam arti terminologi mesjid diartikan sebagai tempat khusus untuk melakukan aktivitas ibadah dalam arti luas.
Pendidikan Islam tingkat pemula lebih baik di lakukan di mesjid sebagai lembaga pengembangan pendidikan keluarga. Dengan menjadikan lembaga pendidikan dalam mesjid, akan terlihat hidupnya. Sunah-sunah Islam dan menghilangkan segala bid’ah karena itu mesjid merupakan lembaga kedua setelah lemabaga pendidikan keluarga yang jenjang pendidikan terdiri dari sekolah menenggah dan sekolah tinggi dalam waktu yang sama.
Implikasi mesjid sebagai lembaga pendidikan Islam adalah :
1.Mendidik anak untuk tetap beribadah kepada Allah SWT,
2.Menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban nya sebagai insan pribadi sosial, dan warga negara.
3.Memberikan rasa ketentraman, kekuatan dan kemakmuran potensi, potensi rohani manusia melalui pendidikan kesabaran renungan optimisme dan mengadakan penelitian
Fungsi mesjid dapat lebih efektif bila didalamnya disediakan fasilitas-fasilitas terjadinya proses belajar mengajar fasilitas yang di perlukan adalah sebagai berikut.
1.Perpustakaan
2.Ruang diskus
3.Ruang kuliah
3.Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan Islam.
Pondok pasantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang didalamnya terdapat seorang kiai ( pendidik ) yang mengajar dan mendidik para santri ( peserta didik ) dengan sarana mesjid yang digunakan untuk menyelengarakan pendidikan tersebut serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri .
Tujuan terbentuknya pondok pasantren
Pondok pasantren adalah :
1.Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam.
2.Tujuan khusus yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan.
Sebagai lembaga yang tertua, sejarah, sejarah perkembangan pondok pasantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat non klasikal yaitu model sistem pendidikan dengan metode pengajaran wetonan dan serongan.
4.Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam.
Madrasah merupakan Islam makna dari darasa yang berarti tempat untuk belajar. Istilah madrasah kini telah menyatu dengan Istilah sekolah atau perguruan ( terutama perguruan Islam )
Tugas lembaga madrsah sebagai lembaga pendidikan Islam adalah :
1.Merealisasikan pendidikan Islam yang didasarkan atas pikir akidah dan tasyri yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan Bentuk dan ralisasi itu ialah agar peserta didik beribadah, mentauhidkan Allah SWT.
2.Memelihara fitrah anak didik sebgai insan mulia agar ia tak menyimpang tujuan Allah menciptakannya.
3.Memberikan kepada anak didik dengan seperangkat peradaban dan kebudayaan Islami, dengan cara mengintegrasikan antara Ilmu-ilmu alam sosial ilmu esikta yang di landaskan atas ilmu-ilmu agama sehingga anak didik mampu melibatkan dirinya kepada perkembagan IPTEK.
4.Membersihkan pikiran den jiwa dari pengaruh subjektivitas ( emosi ) karena pengaruh jaman dewasa ini lebih mengarah pada penyimpangan fitrah manusiawi.
5.Memberikan wawasan nilai dan moral, serta peradaban manusia yang membawa khazanah pemikiran anak didik menjadi berkembang
6.Menciptakan suasana kesatuan dan kesamaan antara anak didik
7.Tujuan mengkoordinasi dan membenahi kegiatan pendidikan
8.Menyempurnakan tugas-tugas lembaga pendidikan keluarga, mesjid dan pasantren.
A.Problematika / Tantangan Lembaga Pendidikan Islam
Berbagai upaya telah di lakukan oleh para Ilmuan ulama yang banyak memprihatinkan tentang pelaksanaan pendidikan agama di lembaga-lembaga formal kita. Pelaksanaan program pendidikan agama di banyak sekolah kita belum berjalan seperti diharapkan oleh masyarakat karena berbagai kendala dalam bidang kemampuan pelaksanaanya, metodenya.
Berbagai faktor yang di identifikasikan penghambat dapat di simpulkan sebagai berikut
a.Faktor-faktor eksternal
1.Timbulnya sikap masyarakat atau orang tua di beberapa lingkungan sekolah yang kurang peduli kepada pentingnya pendidikan agama
2.Situasi lingkungan disekitar sekolah yang di pengaruhi oleh godaan-godaan setan yang beragam bentuknya
3.Timbulnya sikap prustasi dikalangan masyarakat orang tua bahwa tingkat pendidikan yang dengan susah payah di raih
4.Produksi Pendidikan di sekolah yang dicapai dalam waktu relatif singkat dengan dana yang semaksimal mungkin.
b.Faktor-faktor Internal Sekolah
1.Guru kurang kompeten untuk menjadi tenaga profesional
2.Penyalah gunaan menajemen penempatan yang mengalih tugas kan guru agama kebagian adminitrasi seperti perpustakaan misalnya, atau pekerjaan non guru
3.Pendekatan metodologi guru masih terpaku kepada orientasi tradisionalistis sehingga tidak mampu menarik minat murid kepada pelajaran agama.
4.Kurangnya rasa solidaritas antara guru agama dengan guru-guru bidang studi umum.
5.Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar karena disibukan dengan usaha non guru untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari atau mengompreng di sekolah-sekolah swasta dan sebagainya.
6.Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat formal
7.Petugas supervisi ( Pengawas dan Pemilik ) tak berfungsi sesuai harapan.
KESIMPULAN
A.Pengertian pendidikan Islam dan Lembaga Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah usaha dan kegiatan yang dilakkukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan suruan Agama dengan terdakwah, agar terlaksanaya pendidikan Islam dengan baik dan dapat berjalan dengan sempurna maka dibutuhnya adanya lembaga.
B.Lembaga Pendidikan Islam
1.Lembaga yang tidak berubah
2.Lembaga yang tidak dapat berubah
C.Lembaga Proses pendidikan Islam
1.Keluarga
2.Mesjid
3.Pondok Pesantren
4.Madrasah
D.Problematika / tantangan pendidikan Islam
a.Faktor Exsternal
b.Faktor-faktor Internal Sekolah
Bahan Bacaan
1.DRS. Muhaimin, M.A.et,al Paradigma Pendidikan Islam, PT Remaja rosdakarya, bandung 2004
2.Muhammad bin jamil zainu, Solusi Pendidikan anak masa kini, Mustaqim, 2002
3.Prof. H.Muzayyin Arifin, Med, kapita Pendidikan Islam PT.Bumi Aksara, Jakarta 2007.
4.Dr.Abdul Muzib, M.Ag. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta kencana 2008
5.Dr. Zakiah Daradjad, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta 2008
6.Drs.Amasl Amri, Mpd, Studi filsafat Pendidikan, Banda Aceh Yayasan Pena, 2007.
Selasa, 06 April 2010
Melihat Kebaikan Dalam setiap Peristiwa
Alam ini lembaran yang selalul terbuka untuk di baca....
Sebenarnya, melihat kebaikan dalam segala hal merupakan ungkapan yang biasa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, orang sering mengatakan, “Pasti ada kebaikan (hikmah) di balik kejadian ini,” atau, “Ini merupakan berkah dari Allah.”
Biasanya, banyak orang mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami arti sebenarnya atau semata-mata hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang tidak ada maknanya. Kebanyakan mereka gagal memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan-ungkapan tersebut atau bagaimana pemahaman itu dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya, kebanyakan manusia tidak sadar bahwa ungkapan-ungkapan tersebut tidak sekadar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kejadian sehari-hari.
Kenyataannya, kemampuan melihat kebaikan dalam setiap kejadian, apa pun kondisinya—baik yang menyenangkan maupun tidak—merupakan kualitas moral yang penting, yang timbul dari keyakinan yang tulus akan Allah, dan pendekatan tentang kehidupan yang disebabkan oleh keimanan. Pada akhirnya, pemahaman akan kebenaran ini menjadi sangat penting dalam menuntun seseorang tidak hanya untuk mencapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat, tetapi juga juga untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tak akan berakhir.
Tanda pemahaman yang benar akan arti iman adalah tidak adanya kekecewaan akan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi dan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan sentimentalisme, ini menunjukkan kurangnya kemurnian iman. Kebingungan ini harus segera dienyahkan dan kesenangan yang berasal dari keyakinan yang teguh harus diterima sebagai bagian hidup yang penting. Orang yang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya. Jika ia menyebutnya sebagai “kemalangan”, “kesialan”, atau “seandainya”, ini hanyalah untuk menarik pelajaran dari sebuah pengalaman. Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi. Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Bagaimanapun juga, jika ia jatuh dalam kesalahan yang sama, ia ingat bahwa semuanya memiliki maksud tertentu dan mudah saja memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam kesempatan mendatang. Bahkan jika hal yang sama terjadi puluhan kali lagi, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa tersebut adalah untuk kebaikan dan menjadi hak Allah yang kekal. Kebenaran ini juga dinyatakan secara panjang lebar oleh Nabi saw.,
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Hanya dalam kesadaran bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik sajalah hati seseorang akan menemukan kedamaian. Adalah sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman bila ia memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Seseorang yang jauh dari Islam akan menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Ia terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Di sisi lain, orang beriman menyadari dan menghargai kenyataan bahwa ada tujuan-tujuan Ilahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.
Karena itu, adalah memalukan bagi orang beriman bila ia ragu-ragu dan ketakutan terus-menerus karena selalu mengharapkan kebaikan dan kejahatan. Ketidaktahuan terhadap kebenaran yang jelas dan sederhana, kekurangtelitian, dan kemalasan hanya akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Kita harus ingat bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah benar-benar sempurna. Jika seseorang menyadari adanya kebaikan dalam setiap hal, dia hanya akan menemukan karunia dan maksud Ilahiah yang tersembunyi di dalam semua kejadian rumit yang saling berhubungan. Walau ia mungkin memiliki banyak hal yang mesti diperhatikannya setiap hari, seseorang yang memiliki iman yang kuat—yang dituntun oleh kearifan dan hati nurani—tidak akan membiarkan dirinya dihasut oleh tipu muslihat setan. Tak peduli bagaimanapun, kapan pun, atau di mana pun peristiwa itu terjadi, ia tidak akan pernah lupa bahwa pasti ada kebaikan di baliknya. Walaupun ia mungkin tidak segera menemukan kebaikan tersebut, apa yang benar-benar penting baginya adalah agar ia menyadari adanya tujuan akhir dari Allah.
Berkaitan dengan sifat terburu-buru manusia, mereka kadang-kadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih agresif dan nekat dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. Di dalam Al-Qur`an, hal ini disebutkan,
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa`: 11)
Meski demikian, seorang hamba harus berusaha melihat kebaikan dan maksud Ilahiah dalam setiap kejadian yang disodorkan Allah di depan mereka, bukannya memaksa untuk diperbudak oleh apa yang menurutnya menyenangkan dan tidak sabar untuk mendapatkan hal itu.
Walau seseorang berusaha untuk mendapatkan status finansial yang lebih baik, perubahan itu mungkin tidak pernah terwujud. Tidaklah benar jika seseorang menganggap suatu kondisi itu merugikan. Tentu saja seseorang boleh berdo’a kepada Allah untuk mendapatkan kekayaan jika kekayaan itu digunakan di jalan Allah. Bagaimanapun juga, ia harus mengetahui bahwa jika keinginannya itu tidak dikabulkan Allah, itu disebabkan alasan tertentu. Mungkin saja bertambahnya kekayaan sebelum matangnya kualitas spiritual seseorang dapat mengubahnya menjadi orang yang gampang diperdaya oleh setan. Banyak alasan Ilahiah lainnya—di antaranya tidak langsung disadari atau hanya akan terlihat di akhirat—dapat mendasari terjadinya sebuah peristiwa. Seorang usahawan, misalnya, bisa saja tertinggal sebuah pertemuan yang akan menjadi pijakan penting dalam kariernya. Akan tetapi, jika saja pergi ke pertemuan itu, ia bisa tertimpa kecelakaan lalu lintas, atau jika pertemuannya diadakan di kota lain, pesawat yang ditumpanginya bisa saja jatuh.
Tak ada seorang pun yang kebal terhadap segala peristiwa. Biasakanlah untuk melihat bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya terlihat merugikan. Meski demikian, seseorang perlu ingat bahwa ia tidak akan selalu dapat mengetahui maksud sebuah peristiwa adalah sesuatu yang merugikan. Ini karena, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, kita tidak selalu beruntung dapat melihat sisi positif yang muncul. Mungkin juga Allah hanya akan menunjukkan maksud keilahian-Nya di akhirat nanti. Karena alasan itulah, yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyerahkannya pada takdir Allah dan memberikan kepercayaannya kepada Allah adalah menerima setiap kejadian itu—apa pun namanya—dengan keinginan untuk mencari tahu bahwa pastilah ada kebaikan di dalamnya dan kemudian menerimanya dengan senang hati.
Harus disebutkan juga bahwa melihat kebaikan dalam segala hal bukan berarti mengabaikan kenyataan dari peristiwa-peristiwa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi, atau mungkin menjadi sangat idealis. Sebaliknya, orang beriman bertanggung jawab untuk mengambil tidakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Kepasrahan orang yang beriman tidak boleh dicampuradukkan dengan cara orang lain, yang karena pemahaman yang tidak sempurna tentang hal ini, mereka tetap saja tidak acuh terhadap apa pun yang terjadi di sekitar mereka dan optimis tetapi tidak realistis. Mereka tidak bisa membuat keputusan yang rasional ataupun menjalankan keputusan tersebut. Ini dikarenakan yang ada pada mereka adalah optimistis yang melenakan dan kekanak-kanakan, bukan mencari pemecahan masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit yang serius, keadaannya saat itu mungkin paling parah sampai pada titik fatal yang diabaikannya selama masa pengobatan. Contoh lainnya, jika seseorang tidak menyadari pentingnya mengamankan harta bendanya, walau ia pernah mengalami pencurian, besar kemungkinan akan menjadi korban lagi dari kejadian serupa itu.
Pastilah cara-cara tersebut jauh dari sikap menaruh kepercayaan kepada Allah dan dari “melihat kebaikan dalam segala hal”. Pada hakikatnya, sikap tersebut berarti ceroboh. Kebalikannya, orang yang beriman harus berusaha mengendalikan situasi sepenuhnya. Pada dasarnya, sikap yang menuntun diri mereka ini adalah suatu bentuk “penghambaan”, karena ketika mereka terlibat dalam situasi tersebut, pikiran mereka dikuasai oleh ingatan akan kenyataan bahwa Allahlah yang membuat peristiwa itu terjadi.
Di dalam Al-Qur`an, Allah menghubungkan kisah para nabi dan orang beriman sebagai contoh bagi mereka yang sadar akan hal ini. Inilah yang harus diteladani oleh seorang mukmin. Sebagai contoh, sikap yang merupakan respons Nabi Huud terhadap kaumnya menunjukkan penyerahan total dan rasa percayanya yang kokoh kepada Allah, walaupun ia mendapatkan perlakuan yang buruk.
“Kaum ‘Aad berkata, ‘Wahai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya, aku menjadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.’ Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya, Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Huud: 53-57)
Sebenarnya, melihat kebaikan dalam segala hal merupakan ungkapan yang biasa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, orang sering mengatakan, “Pasti ada kebaikan (hikmah) di balik kejadian ini,” atau, “Ini merupakan berkah dari Allah.”
Biasanya, banyak orang mengucapkan ungkapan-ungkapan tersebut tanpa memahami arti sebenarnya atau semata-mata hanya mengikuti kebiasaan masyarakat yang tidak ada maknanya. Kebanyakan mereka gagal memahami arti yang sebenarnya dari ungkapan-ungkapan tersebut atau bagaimana pemahaman itu dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada dasarnya, kebanyakan manusia tidak sadar bahwa ungkapan-ungkapan tersebut tidak sekadar untuk diucapkan, tetapi mengandung pengertian yang penting dalam kejadian sehari-hari.
Kenyataannya, kemampuan melihat kebaikan dalam setiap kejadian, apa pun kondisinya—baik yang menyenangkan maupun tidak—merupakan kualitas moral yang penting, yang timbul dari keyakinan yang tulus akan Allah, dan pendekatan tentang kehidupan yang disebabkan oleh keimanan. Pada akhirnya, pemahaman akan kebenaran ini menjadi sangat penting dalam menuntun seseorang tidak hanya untuk mencapai keberkahan hidup di dunia dan akhirat, tetapi juga juga untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang tak akan berakhir.
Tanda pemahaman yang benar akan arti iman adalah tidak adanya kekecewaan akan apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang gagal melihat kebaikan dalam setiap peristiwa yang terjadi dan terperangkap dalam ketakutan, kekhawatiran, keputusasaan, kesedihan, dan sentimentalisme, ini menunjukkan kurangnya kemurnian iman. Kebingungan ini harus segera dienyahkan dan kesenangan yang berasal dari keyakinan yang teguh harus diterima sebagai bagian hidup yang penting. Orang yang beriman mengetahui bahwa peristiwa yang pada awalnya terlihat tidak menyenangkan, termasuk hal-hal yang disebabkan oleh tindakannya yang salah, pada akhirnya akan bermanfaat baginya. Jika ia menyebutnya sebagai “kemalangan”, “kesialan”, atau “seandainya”, ini hanyalah untuk menarik pelajaran dari sebuah pengalaman. Dengan kata lain, orang yang beriman mengetahui bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi. Ia belajar dari kesalahannya dan mencari cara untuk memperbaikinya. Bagaimanapun juga, jika ia jatuh dalam kesalahan yang sama, ia ingat bahwa semuanya memiliki maksud tertentu dan mudah saja memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam kesempatan mendatang. Bahkan jika hal yang sama terjadi puluhan kali lagi, seorang muslim harus ingat bahwa pada akhirnya peristiwa tersebut adalah untuk kebaikan dan menjadi hak Allah yang kekal. Kebenaran ini juga dinyatakan secara panjang lebar oleh Nabi saw.,
“Aku mengagumi seorang mukmin karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Hanya dalam kesadaran bahwa Allah menciptakan segalanya untuk tujuan yang baik sajalah hati seseorang akan menemukan kedamaian. Adalah sebuah keberkahan yang besar bagi orang-orang beriman bila ia memiliki pemahaman akan kenyataan ini. Seseorang yang jauh dari Islam akan menderita dalam kesengsaraan yang berkelanjutan. Ia terus-menerus hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Di sisi lain, orang beriman menyadari dan menghargai kenyataan bahwa ada tujuan-tujuan Ilahiah di balik ciptaan dan kehendak Allah.
Karena itu, adalah memalukan bagi orang beriman bila ia ragu-ragu dan ketakutan terus-menerus karena selalu mengharapkan kebaikan dan kejahatan. Ketidaktahuan terhadap kebenaran yang jelas dan sederhana, kekurangtelitian, dan kemalasan hanya akan mengakibatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Kita harus ingat bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah benar-benar sempurna. Jika seseorang menyadari adanya kebaikan dalam setiap hal, dia hanya akan menemukan karunia dan maksud Ilahiah yang tersembunyi di dalam semua kejadian rumit yang saling berhubungan. Walau ia mungkin memiliki banyak hal yang mesti diperhatikannya setiap hari, seseorang yang memiliki iman yang kuat—yang dituntun oleh kearifan dan hati nurani—tidak akan membiarkan dirinya dihasut oleh tipu muslihat setan. Tak peduli bagaimanapun, kapan pun, atau di mana pun peristiwa itu terjadi, ia tidak akan pernah lupa bahwa pasti ada kebaikan di baliknya. Walaupun ia mungkin tidak segera menemukan kebaikan tersebut, apa yang benar-benar penting baginya adalah agar ia menyadari adanya tujuan akhir dari Allah.
Berkaitan dengan sifat terburu-buru manusia, mereka kadang-kadang tidak cukup sabar untuk melihat kebaikan yang ada di dalam peristiwa yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka menjadi lebih agresif dan nekat dalam mengejar sesuatu walaupun hal tersebut sangat bertentangan dengan kepentingan yang lebih baik. Di dalam Al-Qur`an, hal ini disebutkan,
“Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa`: 11)
Meski demikian, seorang hamba harus berusaha melihat kebaikan dan maksud Ilahiah dalam setiap kejadian yang disodorkan Allah di depan mereka, bukannya memaksa untuk diperbudak oleh apa yang menurutnya menyenangkan dan tidak sabar untuk mendapatkan hal itu.
Walau seseorang berusaha untuk mendapatkan status finansial yang lebih baik, perubahan itu mungkin tidak pernah terwujud. Tidaklah benar jika seseorang menganggap suatu kondisi itu merugikan. Tentu saja seseorang boleh berdo’a kepada Allah untuk mendapatkan kekayaan jika kekayaan itu digunakan di jalan Allah. Bagaimanapun juga, ia harus mengetahui bahwa jika keinginannya itu tidak dikabulkan Allah, itu disebabkan alasan tertentu. Mungkin saja bertambahnya kekayaan sebelum matangnya kualitas spiritual seseorang dapat mengubahnya menjadi orang yang gampang diperdaya oleh setan. Banyak alasan Ilahiah lainnya—di antaranya tidak langsung disadari atau hanya akan terlihat di akhirat—dapat mendasari terjadinya sebuah peristiwa. Seorang usahawan, misalnya, bisa saja tertinggal sebuah pertemuan yang akan menjadi pijakan penting dalam kariernya. Akan tetapi, jika saja pergi ke pertemuan itu, ia bisa tertimpa kecelakaan lalu lintas, atau jika pertemuannya diadakan di kota lain, pesawat yang ditumpanginya bisa saja jatuh.
Tak ada seorang pun yang kebal terhadap segala peristiwa. Biasakanlah untuk melihat bahwa pada akhirnya ada suatu kebaikan dalam sebuah peristiwa yang pada awalnya terlihat merugikan. Meski demikian, seseorang perlu ingat bahwa ia tidak akan selalu dapat mengetahui maksud sebuah peristiwa adalah sesuatu yang merugikan. Ini karena, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, kita tidak selalu beruntung dapat melihat sisi positif yang muncul. Mungkin juga Allah hanya akan menunjukkan maksud keilahian-Nya di akhirat nanti. Karena alasan itulah, yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyerahkannya pada takdir Allah dan memberikan kepercayaannya kepada Allah adalah menerima setiap kejadian itu—apa pun namanya—dengan keinginan untuk mencari tahu bahwa pastilah ada kebaikan di dalamnya dan kemudian menerimanya dengan senang hati.
Harus disebutkan juga bahwa melihat kebaikan dalam segala hal bukan berarti mengabaikan kenyataan dari peristiwa-peristiwa tersebut dan berpura-pura bahwa hal itu tidak pernah terjadi, atau mungkin menjadi sangat idealis. Sebaliknya, orang beriman bertanggung jawab untuk mengambil tidakan yang tepat dan mencoba semua cara yang dianggap perlu untuk memecahkan masalah. Kepasrahan orang yang beriman tidak boleh dicampuradukkan dengan cara orang lain, yang karena pemahaman yang tidak sempurna tentang hal ini, mereka tetap saja tidak acuh terhadap apa pun yang terjadi di sekitar mereka dan optimis tetapi tidak realistis. Mereka tidak bisa membuat keputusan yang rasional ataupun menjalankan keputusan tersebut. Ini dikarenakan yang ada pada mereka adalah optimistis yang melenakan dan kekanak-kanakan, bukan mencari pemecahan masalah. Sebagai contoh, ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit yang serius, keadaannya saat itu mungkin paling parah sampai pada titik fatal yang diabaikannya selama masa pengobatan. Contoh lainnya, jika seseorang tidak menyadari pentingnya mengamankan harta bendanya, walau ia pernah mengalami pencurian, besar kemungkinan akan menjadi korban lagi dari kejadian serupa itu.
Pastilah cara-cara tersebut jauh dari sikap menaruh kepercayaan kepada Allah dan dari “melihat kebaikan dalam segala hal”. Pada hakikatnya, sikap tersebut berarti ceroboh. Kebalikannya, orang yang beriman harus berusaha mengendalikan situasi sepenuhnya. Pada dasarnya, sikap yang menuntun diri mereka ini adalah suatu bentuk “penghambaan”, karena ketika mereka terlibat dalam situasi tersebut, pikiran mereka dikuasai oleh ingatan akan kenyataan bahwa Allahlah yang membuat peristiwa itu terjadi.
Di dalam Al-Qur`an, Allah menghubungkan kisah para nabi dan orang beriman sebagai contoh bagi mereka yang sadar akan hal ini. Inilah yang harus diteladani oleh seorang mukmin. Sebagai contoh, sikap yang merupakan respons Nabi Huud terhadap kaumnya menunjukkan penyerahan total dan rasa percayanya yang kokoh kepada Allah, walaupun ia mendapatkan perlakuan yang buruk.
“Kaum ‘Aad berkata, ‘Wahai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya, aku menjadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya, aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya, Tuhanku di atas jalan yang lurus.’ Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya, Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Huud: 53-57)
Langganan:
Postingan (Atom)